Tuesday, July 13, 2010

MENYUSURI BENINGNYA CITARUM ASLI

PERTAMA kali mengunjungi Gua Sanghiangtikoro —saat masih di SMP bersama ayahanda ytc alm— penulis heran. Saguling, nama daerah tempat Sanghiangtikoro berada, terletak di dataran rendah. Seingat penulis waktu itu di daerah ini tak ada gunung api, dan memang tak ada, meskipun di sana terdapat sumber air panas. Tapi kenapa bau belerang begitu menyengat?

Tak jauh dari Sanghiangtikoro, terdapat pipa pesat milik PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Saguling. Ke dalam terowongan ini, air berkapasitas raksasa diluncurkan agar menghasilkan listrik untuk memasok Jawa-Bali. Penampilannya “megah”, berwarna oranye, sehingga menarik perhatian. (foto kiri: gua dengan sungai bawah tanahnya: Sanghiangtikoro)

Dan tahukah dari mana air yang diluncurkan melalui pipa pesat tersebut berasal? Dari saluran-saluran kotoran perumahan; saluran pembuangan limbah industri: pabrik, rumah sakit, peternakan; sampah rumah tangga maupun industri, hingga erosi tanah-tanah pucuk yang terkadang sudah tercemari pula oleh pupuk-pupuk kimia. Segala tetek bengek itu —baik yang langsung masuk Citarum maupun yang dipasok sungai-sungai kecil macam Cikapundung— bersatu di daerah aliran sungai (DAS) Citarum, dan terbendung di Waduk Saguling.(foto kanan: pipa pesat PLTA Saguling)

Awal 2000-an, pernah terjadi bencana. Ikan-ikan yang dibudidayakan pada jaring apung (japung) di Waduk Saguling, pada koit. Nelayan japung rugi besar. Seingat penulis, waktu itu tersiar berita bahwa musim hujan telah memasok debit besar ke Waduk Saguling, dan mengocok isi perut telaga buatan itu.

Maka, segala racun yang telah mengendap di dasar waduk membuncah, dan menyebabkan air pada level permukaan teracuni atau kehilangan oksigen (kira-kira begitu). Tak heran jika ikan-ikan pada megap-megap dan lalu menemui ajalnya. Keadaan air yang berracun ini juga diduga disumbang oleh pakan ikan yang diproses secara kimiawi, dan digrojok terus ke dalam air Saguling. (foto kiri: indahnya warna-warni sampah dari sungai-sungai "kecil" yang dipasok ke Citarum. Pemandangan khas sungai-sungai kota besar di Indonesia, khususnya Bandung, umumnya Jawa Barat. Berbanding sejajar dengan budaya nyampah warganya yang aujubilah)

Untuk lebih ilmiahnya, seorang aquatic ecologist, Dr Sutrisno Sukimin, menyatakan, salah satu penyebab mati masalnya ikan-ikan di waduk adalah karena terjadinya penyuburan unsur hara (tropikasi) pada sedimentasi waduk. Tropikasi ini membuat plankton yang tidak dibutuhkan oleh biota waduk, mendominasi ekologi waduk. Akibatnya, keragaman ekologi akuatik waduk—termasuk ikan-ikan yang dibudidayakan di japung— terancam jiwanya. Apalagi, kualitas air baku waduk juga menurun dan mulai tercemar logam berat. Padahal, air waduk ini merupakan cadangan air tawar untuk air minum juga, hiiyyy!!!

Air Citarum berracun yang terbendung Saguling ini lah yang meluncur melalui pipa pesat, lalu dilepaskan ke Citarum segmen Sanghiangtikoro. Bisa dibayangkan, air model apa yang telah mengaromai Sanghiangtikoro. Dilihat kasat mata saja, air ini sungguh tak segar. Warnanya agak hijau, bukan hijau karena refleksi lumut atau plankton, dan berbusa. Sepertinya lengket jika terkena kulit. Kandungan logam beratnya pastinya juga sudah tinggi. Dari air yang kondisinya seperti ini lah bau belerang tersebut menguar—bau air berracun.














World's Most Poluted River: Citarum.... oh Citarum!!


Maka tak berlebihan jika satu lembaga dunia mencap Citarum sebagai "World's Most Poluted River" pada 2008 lalu. Dan tampaknya —tanpa harus mengikuti kompetisi pun— Citarum akan mempertahankan predikat juara bertahan sebagai sungai terkotor di dunia itu hingga kini! Mmmhh... bangganyaaa!!! (*notorious)

Citarum adalah sungai terpanjang di Jawa Barat. Panjangnya mencapai 225 kilometer. Riwayat alirannya dimulai dari mata airnya di Gunung Wayang (Pangalengan-Kabupaten Bandung). Di perjalanan, ia mendapat pasokan dari berbagai sungai kecil termasuk Cikapundung yang alirannya melewati Kota Bandung, (dan kondisinya sama busuknya). Alirannya berakhir di suatu wilayah bernama Muara Gembong (Kabupaten Karawang dan Bekasi).

Kembali ke Sanghiangtikoro. Di lokasi ini, dua kontradiksi Citarum bertemu. Faktor penentu kontradiksi ini pertama adalah, air "sari limbah" dari pipa pesat dihempaskan ke Citarum sekitar Sanghiangtikoro (yang bercabang dua: ke sungai yang bercabang ke kiri, dan ke sungai cabang kanan yakni yang masuk ke dalam mulut Sanghiangtikoro). Namun keduanya akhirnya bergabung lagi ke Citarum yang melewati Desa Bantarcaringin, yang lokasinya tak jauh dari Sanghiangtikoro (foto kiri: aktivitas warga Bantarcaringin di Citarum: Seorang anak tampak mahir bermain selancar-selancaran di sungai yang menguarkan bau belerang ini)

Warga Desa Bantarcaringin, sudah sangat “fasih” dengan sungai ini. Kita boleh ber-sniff-sniff-ria menghirup bau belerang menyengat, namun anak-anak warga setempat dibiarkan tetap ceria bermain di lebar dan derasnya Citarum hilir ini (atau tepatnya agak hilir), dan bahkan menjadi perenang-perenang otodidak. Gangguan kesehatan akibat seringnya bersentuhan dengan air limbah ini mungkin baru akan terasa saat usia mereka lebih dewasa kelak.

Sedangkan faktor penentu kedua adanya kontradiksi ini adalah: terdapatnya aliran Citarum yang bersih, di mana “orang-orang kota” tak sungkan-sungkan nyebur ke dalamnya. Di aliran ini, Citarum boleh dibilang tak tercemar produk bikinan manusia. Citarum segmen inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini, yakni berdasarkan pengalaman penulis menjajal lokasi ini dua kali, termasuk saat kegiatan “Jajal Geotrek IV” pada 8 Mei 2010 lalu.

Kontradiksi ini buat penulis sangat menarik, karena dua hal yang saling bertentangan saling bertemu: Citarum asli dan Citarum yang sudah tergadaikan keasliannya. Dan ini mungkin hanya bisa terjadi di Indonesia, di Jawa Barat…. di Citarum.

***

SEGMEN YANG TERPUTUS DARI HULU ASLINYA DI GUNUNG WAYANG------ Citarum asli yang dimaksud dalam artikel ini, sesungguhnya boleh dibilang sebagai sungai mati. Seandainya tidak ada mata-mata air di sekitarnya, niscaya sungai ini akan kering. Bagaimana mungkin? Karena dengan dibendungnya sungai ini untuk keperluan PLTA Saguling, maka terputuslah sungai segmen ini dari mata air aslinya di Gunung Wayang-Pangalengan. Karena itu Citarum segmen ini menjadi tak ubahnya sungai yang alirannya disodet.

Keterangan gambar: Garis hijau adalah aliran Citarum yang "mati" karena hulunya dibendung (di sinilah kami bersukaria menikmati keaslian alam). Bendungan Saguling dengan waduknya, dapat diamati pada pada posisi kanan bawah. Garis hitam adalah garis imajiner bikinan penulis (pada gambar aslinya tidak tampak adanya aliran menuju pipa pesat) yang kira-kira merupakan jalur sodetan air dari Waduk Saguling menuju pipa pesat (ujung atas garis hitam). Citarum pun terputus dari sumber aslinya. --- gambar diunduh dari Google Earth.

Namun begitu, Citarum asli kini bagaikan museum alam. Andai tak akan pernah ada pembangunan yang merecokinya, tak akan pernah ada perumhan di sekitarnya, maka sungai segmen ini dapat menceritakan pada setiap generasi mengenai kondisi Citarum yang hakiki, yang asli, yang terbentuk karena proses alam, tanpa keterlibatan manusia. Bahkan ternyata, lingkungannya masih sanggup memberikan kehidupan bagi Elang Jawa, biawak/kadal raksasa (setidaknya dua hewan inilah yang menampakkan diri saat kami berada di sana), dan mungkin hewan-hewan liar lainnya. Jadi, tolong jangan ganggu "kami"..........

****

Sang “Tenggorokan Dewa”

MESKI tak perlu waktu lama untuk mengamati keluarbiasaan fenomenanya, namun Gua Sanghiangtikoro yang melahap rakus air Citarum (yang berlimbah) ini, tak pernah membuat penulis bosan untuk menatap dan menatap lagi ke arahnya, seolah berharap tiba-tiba ada naga keluar dari dalamnya. Tangan pun tak bisa ditahan untuk tak merogoh kamera dan kembali menjepretkannya untuk ke sekian kali ke arah liang “tenggorokan sang dewa” ini, dari sekian kali kunjungan ke lokasi ini (padahal hasilnya tidak pernah jauh berbeda).

Dulu, Sanghiangtikoro “dituding” sebagai penyebab bobolnya Danau Bandung Purba. Sehingga di masa-masa sebelumnya, selalu ada wacana semi anekdot bahwa jika Sanghiangtikoro tersumbat, maka Bandung akan kembali menjadi danau. Namun seorang geolog ITB –yang juga penulis buku WBCB– menyusun teori baru bahwa tak mungkin air jebol di sini sebab posisi danau purba tersebut jauh lebih tinggi, dan di posisi lebih tinggi tersebut ada perbukitan yang menghalangi yang boleh jadi merupakan dinding barat laut Danau Bandung Purba. Maka, ditunjuklah “biang keladi” baru, yaitu satu celah antara dua bukit. Bukit sebelah kirinya bernama Pasir Kiara, dan bukit sebelah kanannya bernama Puncak Larang. Teorinya, bukti ini dahulunya bersatu, namun kemudian pada 16.000 tahun lampau, bukit karst ini jebol karena gerusan air Danau Bandung Purba.

Citarum Asli (Loh!)

Di “plaza” pandang Sanghiangtikoro, kontradiksi Citarum asli dan Citarum “palsu” bisa diamati dengan jelas. Di ujung “plaza” ini, air Citarum yang keluar dari pipa pesat diatur oleh satu instalasi –bentuknya mirip instalasi irigasi. Dari posisi ini pula, kita bisa menyaksikan panorama purba dari Citarum asli. Setiap kali mendatangi lokasi ini, penulis selalu penasaran pada sungai lebar dengan batu-batu besarnya yang berserakan nun di sana. Maka, saatnya mengurai rasa penasaran ini.

Untuk mendapati jalan setapak di sisi segmen Citarum asli ini kita bisa sekalian melewati lokasi terdekat ke pipa pesat oranye nan “megah” tersebut. Peserta Jajal Geotrek (JG) IV, sudah pasti tak melewatkan kesempatan berpose dengan latar belakang pipa raksasa ini. Hanya beberapa meter dari sini, kita sudah berada di sisi Citarum asli ini.

Salah satu pemandangan saat baru memasuki segmen Citarum asli ini adalah adanya para "petani pisang" yang lincah meloncati batu-batu di sungai sambil memikul tandan-tandan pisang yang masih hijau. Dari mana pisang-pisang tersebut?

Susur Citarum asli belum benar-benar dimulai. Momentum untuk mulai menggauli sang warisan alam purba ini akan dimulai setelah kita melalui Gua Sanghiangpoek. Ini sesi yang tak boleh dilewatkan karena di dalam gua karst ini ada fenomena alam menarik meski tidak semenarik gua-gua yang terdapat di Maros (Sulawesi) atau Sukabumi misalnya.

Gua Sanghiangpoek tidak terlalu dalam. Dari pintu masuk hingga keluar lagi, panjangnya tak lebih dari 100 meter (?). Namun gua ini menjadi pelengkap penting paket perjalanan susur Citarum ini. Gua Sanghiangpoek masih “hidup”, ditandai dengan masih adanya stalaktit yang meneteskan air. Beberapa stalagtit yang tampak berkilauan tertimpa cahaya senter, menjadikannya objek yang menarik sekali untuk dijepret puluhan kamera yang dibawa peserta JG IV.

Di lorong-lorong gua, tampak batang-batang pohon berserakan. Rupanya ini sisa “banjir” besar beberapa minggu sebelumnya, yang juga telah meruntuhkan jembatan Bantarcaringin. Sedikit mengulas peristiwa runtuhnya jembatan tersebut, saat musim hujan sedang berat-beratnya sekitar Februari lalu, pihak PLTA Saguling yang mungkin cemas dengan debit air yang meninggi di Waduk Saguling, membuka pintu air terlalu lebar. Akibatnya, air menggelontor terlalu besar dan menghajar jembatan rapuh Desa Bantarcaringin, jembatan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Tingginya curah hujan waktu itu, memang menimbulkan kecemasan bahwa bendungan PLTA Saguling akan bobol. Jika sampai terjadi, ini akan mengingatkan kita pada peristiwa jebolnya bendungan Situ Gintung di Jakarta, dan pastinya akan memakan korban lebih banyak karena besarnya kapasitas Bendungan Saguling. (foto kiri: stalagtit yang masih hidup, yang berkilauan jika tersorot cahaya)

Keluar dari Gua Sanghiangpoek, kita dihadapkan pada lantai batuan karst yang curam dan tajam, yang di bawahnya langsung bertemu aliran Citarum asli. Untuk turun dari mulut gua ini, harus ekstra hati-hati. Tangan harus ikut bermain untuk menyokong pijakan kaki. Namun begitu, ada semacam beranda cukup landai di depan mulut gua sehingga kita masih bisa duduk-duduk sambil menatap aliran Citarum asli di depan. Wow, keren!!

Penulis memperoleh dua kali pengalaman berbeda di lokasi ini. Saat melakukan survei seminggu sebelumnya, kemarau 2010 seolah-olah baru dimulai. Debit air yang tenang karena tak ada hujan sejak beberapa hari sebelumnya, membuat genangan-genangan air di bagian-bagian sungai yang lebih dalam tampak bening dan menghijau karena pantulan lumut, dan juga merefleksikan bebatuan di atasnya dengan sempurna. Namun saat hari H, aliran sungai lebih deras sehingga membuat warna air sungai sedikit lebih keruh. Waktu itu, iklim mulai menampakkan anomalinya. Seingat penulis, hingga saat tulisan ini dipublikasikan, kemarau sempat terasa selama semingguan saja. Setelah itu, tersiarlah istilah "kemarau basah".

Di sepanjang aliran sungai antara Sanghiangpoek – Leuwi Gobang – hingga Leuwi Malang, banyak ditemukan sumber mata air yang mengalir dari tebing di sisi kiri sungai, membentuk jeram kecil. Sewaktu survei, rekan-rekan dari Muthahhari Adventure Team (MAT) bahkan mengaku bahwa mereka memasak air teh dan mi instan dari air yang menggenang. Namun sepulang dari survei, toh tak ada yang mengaku sakit akibat mengonsumsi air dari sumber air terbuka ini, termasuk penulis.

Susur Citarum sepanjang sekitar dua kilometeran ini hingga ke lokasi bernama Pasir Malang, cukup menguras tenaga. Pasalnya, meloncati dan memanjati bebatuan bukan perkara mudah. Namun cuaca yang mendung pada hari H (bahkan akhirnya hujan lumayan rapat, berpetir pula) sedikit banyak dapat menyimpan cadangan tenaga, ketimbang jika cuaca panas seperti saat melakukan survei. Tapi gara-gara hujan juga, beberapa rencana seru terpaksa dibatalkan dengan alasan keselamatan. Rencana itu antara lain untuk mengunjungi Sanghiangheuleut, bahkan Curug Halimun seperti yang dijanjikan diawal. (foto kiri: Sanghiangheuleut. Untuk mencapai lokasi ini, perlu perjuangan agak berat)

Kian ke hulu, pemandangan Citarum asli ini memang kian bikin mulut menganga. Pada kesempatan survei, penulis memaksakan terus ikut hingga Sanghiangheuleut. Panoramanya memang makin eksotis. Ukuran batu kian besar dengan bentukan-bentukannya yang juga makin unik, antara lain fenomena pothole. Sebenarnya, di dekat Sanghiangpoek juga ada pothole, namun bentuknya tidak seunik di posisi lebih ke hulu.

Pothole terjadi karena pusaran air yang menggerus batuan yang tentunya memerlukan waktu ribuan tahun. Mengambil pelajaran dari fenomena alam ini, satu pepatah dalam bahasa Sunda mengatakan: ci karacak ninggang batu laun-laun jadi legok --air yang berjatuhan terus-menerus pada batu, akan membuat batu tersebut lambat laun menjadi cekung.

Namun perjuangan untuk mencapai lokasi ini, agak-agak bertaruh nyawa. Lebay? Tidak juga. Karena kalau terpeleset sedikit saja, kepala bisa membentur batu-batu besar yang terkadang bertekstur tajam. Cara teraman, sebenarnya lebih baik kalau menceburkan diri saja ke dalam sungai. Sayangnya, di beberapa bagian sungai, kedalamannya bisa lebih dari satu meter, dan kita tidak pernah tahu ada apa di dasar sungai tersebut. Padahal para peserta perlu juga mengamankan peralatan tempur yang rawan air seperti ponsel dan kamera. Jadi, Curug Halimun bagi penulis juga masih menjadi misteri, meskipun katanya tempat ini bisa ditempuh dari lokasi lain di hulu, bukan dengan susur sungai dari hilir.

Dengan turunnya hujan di bulan-bulan yang justru harusnya kemarau, mengingatkan penulis pada JG III ke Tangkubanparahu. Saat itu, persiapan peserta menghadapi kemungkinan hujan, cukup baik, karena memang diselenggarakan di bulan-bulan yang masih musim penghujan. Sampai-sampai beberapa kecewa karena hujan tak turun. Sebaliknya dengan JG IV. Banyak yang tidak siap menghadapi hujan karena menduga kemarau sudah tiba. Penulis pun sengaja tidak membawa jas hujan, dan berharap bisa teratasi dengan topi saja. Eeeh... bahkan topi pun tertinggal. Untung seseorang telah berbaik hati meminjamkan topinya karena ybs sudah membawa jas hujan (terima kasih Mbak Suzanna).

Dengan agak kecewa, peserta kembali ke Sanghiangpoek. Namun kali ini tidak menyusuri sungai, melainkan melalui jalan setapak yang biasa dilalui para petani pisang. Bicara soal pisang, jika memandang ke tebing-tebing di sisi kiri dan kanan sungai, vegetasi kawasan ini tampaknya sudah sangat berubah. Sungguh aneh di tebing-tebing dengan kemiringan hampir 60-70 derajat itu, banyak ditumbuhi pohon pisang.

Ada dua keprihatinan yang membuncah di kepala: pertama, masyarakat miskin yang memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk bertani walaupun dengan kontur tanah yang sulit. Kedua, rusaknya vegetasi asli kawasan, yang tentu saja bisa mengundang bencana alam. Mana yang harus dibela? Yang seperti ini memang hanya bisa terjadi di negara miskin dan korup macam negeri ini.

***

Akhirnya, pesta yang sebenarnya, terjadi di pelataran depan Gua Sanghiangpoek. Hujan pula yang membuat acara rehat kopi di lokasi ini menjadi amburadul. Namun sejumlah peserta tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melepaskan penat hati dengan menceburkan diri ke sungai. Meski agak keruh, air sungai Citarum asli ini sama sekali tidak berbau.

Sebagai pembuat susunan huruf-huruf "JAJAL GEOTREK" tersebut (taela!, heu!) sungguh tak dinyana ada yang memiliki ide membentang huruf-huruf tersebut di “dalam” air. Tapi, tak ada niatan untuk menyelamatkan konfigurasi huruf tersebut karena kondisinya memang sudah lepek, basaah!! Ah, ya sudah lah, meski mengguntinginya sambil menahan kantuk semalam suntuk, tapi susunan huruf-huruf itu toh cuma dibuat dari kertas poster "Rectoverso" yang “sumbernya” masih berlimpah (?) Akankah ada semalam suntuk kedua untuk membuatnya lagi? i dont think so... (Ruri Andayani)

***












Citarum Segmen Sanghiangpoek. Air yang begitu tenangnya , setelah lama tak turun hujan pada Mei lalu (kirain kemarau mulai "serius"), merefleksikan bebatuan dengan jernihnya.


(Mengenai Citarum sebagai sungai paling kotor sedunia, ada yang menyanggahnya. Silakan buka link ini: http://sobirin-xyz.blogspot.com/2010/09/sobirin-citarum-bukan-yang-terpolusi.html)

Sumber foto tamu:

@http://www.mnn.com/sites/default/files/imagecache/node-gallery-display/photos/Citarum.JPG

@http://www.jonco48.com/blog/deadfish_small.jpg

@ http://4.bp.blogspot.com/_ovJS1Em-6dg/RmVzptu6qQI/AAAAAAAAJIc/WUAwHIOYlI8/s400/rubbishRiver1.jpg


3 comments:

  1. Tulisan bagus dan mencerahkan, saya baru ngeh setelah ke lokasi ini seminggu lalu, dan browsing2 di internet

    ReplyDelete