Monday, October 3, 2011

Lava Basalt Purba: Karpet Merah bagi Ci Mahi

Bagaikan gulali merah yang encer karena panas, lava bersuhu ribuan derajat Celcius itu mengalir deras, menerobos, menerabas, menerjang segala hambatan di depannya, mematuhi hukum gravitasi. Pada saat bertemu posisi landai dia menggumpal, bertumpuk-tumpuk, mendorong ujung terdepannya untuk melanjutkan perjalanan.

PADA kontur yang curam, dia terjun bebas memecah genangan air di bawahnya. Sebagian tertinggal dan membeku, sebagian lagi melanjutkan misinya—misi menyusun sejarah alam yang membentuk bumi yang kita pijak sekarang ini.

Namun pada satu waktu, laksana tersihir mata medusa, salah satu ujung lava itu membeku dalam waktu yang cukup cepat sehingga tak sempat mengaburkan identitasnya sebagai ujung lava. Dia kini membeku menjadi batu dalam pola tampak memutar ke atas, bak ingin menggapai bulan namun apa daya energinya kadung habis di perjalanan.

Kisah sang ujung lava membeku ini bukan semacam dongeng Malin Kundang yang dikutuk jadi batu, atau perahu yang menjadi gunung karena ditendang Sangkuriang hingga terbalik. Ujung lava membeku ini benar-benar fakta sejarah. Monumennya bahkan masih bisa kita amati hingga sekarang (atau setidaknya sampai tulisan ini dipublikasikan, mengingat monumen alam ini dikabarkan terancam dibongkar karena di lokasinya berada akan didirikan perrumahan. *Itulah Indonesia). (foto "lava muter", kanan, milik Taufik Hidayat)

Pada 55.000 tahun yang lampau, Gu
nung Tangkubanparahu meletus dahsyat. Aliran lavanya antara lain mengalir melalui jalur yang sekarang dikenal sebagai Sungai Cimahi (Ci Mahi). Satu segmen sungai ini kini berada di satu tempat wisata/perkemahan bernama “Curug Tilu Leuwi Opat” (CTLO) atau juga dikenal dengan nama CIC, di wilayah administrasi Cimahi, dekat Lembang (Bandung Utara agak ke barat). Peristiwa letusan anak Gunung Sunda tersebutlah yang menjadi cikal bakal lava basalt yang jejaknya membentang di tempat wisata tersebut, sepanjangnya kira-kira 3--4 kilometer hingga lokasi “monumen ujung lava” tersebut berada.

Kontur alam yang cukup terjal, membuat pola aliran air Ci Mahi di lokasi ini sangat menarik. Apalagi memang, air Ci Mahi mengalir bagai dialasi “karpet merah” Lava purba Tangkubanparahu berwarna hitam ini, yang membuat pola alirannya makin indah menawan.

***

Akhir 2010, dengan tiket per orang masih Rp 3.000, alam masih sanggup memberikan hiburan mengharukan bagi jiwa-jiwa penikmatnya. Bagaimana tidak mengharukan, selain kondisi hutannya masih tampak baik, di lokasi yang terbilang tidak terlalu jauh dari keramaian Kota Bandung ini, sumber air masih sangat berlimpah yang tiada henti mengalir. Sementara, krisis air bersih mulai menghantui sejumlah lokasi di Kota Bandung sebagai indikasi rusaknya daerah tangkapan air di bagian utara kota.(foto kanan: salah satu jeram di CTLO. Bagaikan gaun pengantin)

Hanya tebaran dan tumpukan sampah saja yang berhasil mengorupsi kenikmatan tersebut, sedikit. Musik dangdut yang tak henti berdentum pada dua kali kesempatan penulis berkunjung ke sana, sesungguhnya tidak terlalu menjadi masalah, karena hanya terdengar pada radius terbatas dari pusat keramaian. Namun menjadi “lucu” ketika irama dangdut remix tersebut bagai melatari tarian sampah-sampah yang berputar-putar terperangkap putaran air Ci Mahi. Ah orang Melayu, nyampah kok nggak kenal tempat.

Menurut keterangan pengelola lokasi ini, CTLO berada di kawasan tanah m
ilik pribadi seluas sekitar 14 hektare (mungkin ini menjadi jawaban kenapa lokasi ini baru lebih dikenal belakangan ini), sementara sungai dan sumber air yang mengalir di dalamnya dikelola pemerintah (PDAM). Namun bukan hanya baru-baru ini saja Ci Mahi dimanfaatkan airnya untuk keperluan air ledeng. Sejarahnya sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Tidak heran jika di lokasi ini banyak ditemukan “situs” irigasi.

Lepas dari “gerbang” irigasi terakhir, suguhan pemandangan kian mengesankan. Jembatan-jembatan bambu makin membuat indah panorama, dengan air Ci Mahi mengalir deras di bawah. Agak menyeramkan sebenarnya jika sampai terpeleset jatuh, apalagi jembatan bambu ini terkadang licin terutama di musim hujan. Pada satu bagian, jembatan bambu ini tidak sekedar menghubungkan sisi satu dengan lainnya, melainkan benar-benar dibangun di atas alur sungai—secara kiri kanan sungai adalah tebing, tak ada akses lain.

Meski air Ci Mahi tidak sebening air Ci Geureuh di Gunung Puntang (selatan Ban
dung) misalnya, namun melihat cadangan air baku yang melimpah seperti ini, rasanya seolah-olah kita tidak akan pernah kehabisan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal hulu sungai ini juga sudah tidak perawan lagi. Di posisi atas, ternyata terdapat perkebunan teh dan hutan pinus yang menandakan bahwa lokasi ini sebenarnya sudah tercemari peradaban manusia.

Mata Air dari Situ Lembang
Syukurlah bahwa ternyata mata air Ci Mahi, yakni
Situ Lembang (Situ Lembang adalah sisa kawah purba Gunung Sunda yang berada di kawasan Gunung Burangrang) berada di bawah “pengawasan” TNI. Bahkan karena lokasi ini dijadikan sebagai tempat latihan perang—sehingga masyarakat pun tidak bisa leluasa mengeksploitasi kawasan ini— bolehlah kita berharap bahwa mata air dan lingkungan pendukungnya akan terpelihara dari upaya perusakan. Setidaknya, industrialisasi seperti halnya yang terjadi pada tetangganya, G.Tangkubanparahu, tidak akan menjadi ancaman di sini. Kecuali jika siap keriting terkena ranjau!

Satu areal yang dilengkapi sebuah plang seadanya bertuliskan “Curug Tilu”, tampaknya merupakan obyek “kojo” lokasi wisata ini. Di tempat ini, aliran air menemukan kontur terindahnya sehingga dia jatuh pada dua tebing lava basalt berturut-turut. Inilah “Curug Tilu”. Pemandangan di lokasi ini bahkan bisa dikatakan mirip lukisan-lukisan panoramik khas Indonesia yang sempat terasa standar di era awal ’80-an, namun rasa aslinya ternyata tetap tak terperikan. Lokasi curug ini terdapat pada areal yang cukup luas, dengan begitu pengunjung bisa meng-zoom-in dan zoom-out-kan kameranya ke arah panorama sang curug dari jarak yang cukup jauh.

Seorang Geolog ITB memberi peringkat “Bintang Lima” untuk “atraksi” al
am di lokasi ini. Sayang, kualitas pengelolaannya dan juga kualitas pengunjung pada umumnya, meni Jawa Barat pisaaan!!! Tak ada petugas yang mengingatkan pengunjung untuk tak meninggalkan sampah. Pengunjung pun menikmati keindahan alam sambil makan-makan, tapi meninggalkan sampah-sampahnya itu seolah puas untuk dirinya sendiri saja tapi tidak peduli jika pengunjung lain mungkin akan tercekik oleh sampahnya. Sungguh logika berpikir yang mengherankan—proses menyepelekan kemampuan otaknya sendiri untuk dipakai berpikir lebih banyak.

***

Dua kali mengunjungi lokasi ini, ada teka-teki yang tidak terpecahkan: apa sebab pengelola menamakan lokasi ini “Curug Tilu Leuwi Opat”? Sebab pada lokasi dengan plang bertuliskan Curug Tilu saja, ternyata hanya ada dua curug (air terjun) dan satu leuwi (ceruk/kolam di bawah curug).

Tanya punya tanya, mul
ailah beredar mistikalisasi khas Indonesia. Katanya curug kesatunya adalah yang ada di atas Curug Tilu, sedangkan leuwi pertamanyaa...... si narasumber tidak merekomendasikan untuk ke sana karena katanya lokasi itu sanget alias angker. Padahal, ibu-ibu pemilik warung yang buka lapak di lokasi Curug Tilu saja sudah tidak menyarankan naik ke lokasi lebih atas, karena tampaknya di atas ada warung pesaingnya yang siap menyambut perut lapar para pengunjung.

Hingga kembali turun, tetap tak terjawab: leuwi du
a dan opat(empat)-nya yang mana? Ah, go to heaven dengan istilah-istilah bikinan manusia itu, yang terpenting curug dan leuwi itu sungguh mengesankan dipandang mata, bagai bertemu muka dengan obyek asli yang dilukis seniman-seniman panoramik ‘80-an itu.(ruri andayani)




Tuesday, November 16, 2010

Berjibaku Menggapai Hulu Cigeureuh

(Travelologuegue: tulisan tentang Gunung Puntang jilid II: Curug Siliwangi)

“Nut-nut… nut-nut… nut-nut…,“ begitu kira-kira bunyi yang tertangkap indera pendengaran saya. Konstan. Mengingatkan pada bunyi mesin indikator jantung yang dipasang pada pasien-pasien berkondisi kritis. Bunyi yang ritmenya pelan namun menggaung ini, mengiringi setiap langkah saya yang mulai tak konstan di keheningan belantara Puntang.
Jantung berdegup kencang. Setiap langkah yang dipaksakan menaiki tanjakan demi tanjakan karena takut tertinggal, membuat degupannya makin naik ke kepala. Hanya suara napas berat saya saja yang mampu menyaingi suara burung itu (saya menduga itu memang suara burung). Di ketinggian pepohonan yang berlomba menggapai cahaya matahari, suara sang burung seperti kian mengolok-olok.
Kalau saja saya memedulikan seruan-seruan teman seperjalanan agar terus melangkah naik, dan membiarkan jantung kian berdegup hingga benar-benar mencapai titik nadirnya di kepala, niscaya suara burung itu akan berubah menjadi “nuuuuuuuuuuuuut!” —whew…liarnya imajinasi tentang kematian, di tengah ketidakberdayaan manusia.

Untunglah, di ujung tanjakan, objek yang dituju telah menampakkan jati dirinya: Curug Siliwangi. Seseorang dari grup lain yang bertemu di lokasi, melirik arloji "sagala aya"-nya. Menurut dia, ketinggian di lokasi kami berhenti sesaat untuk mengisi perut, mencapai 1.800 meter. Suara burung itu pun tanpa saya sadari telah menghilang dari pendengaran, seiring waktu yang kian beranjak siang menuju sore, dan pulihnya kondisi fisik terutama psikis.
Upaya mencapai Curug Siliwangi yang berlokasi di Gunung Puntang (gunung yang masih rangkaian dari Pergunungan Malabar di selatan Bandung) ini, bukan yang pertama. Perjalanan di penghujung Juli 2010 ini, bahkan seperti rerun dari perjalanan dua minggu sebelumnya yang gagal menemukan curug satu ini. Saya sendiri semula masih merasa “bosan” untuk kembali ke Gunung Puntang, namun seorang teman berhasil merayu saya (dan justru malah si teman pada menit terakhir membatalkan keikutsertaannya). (foto kanan: saking curamnya rute pada perjalanan pertama yang nyasar tea, peserta--terutama yang bokongnya XL-- terpaksa pada pake jurus suster ngesot. Mengorbankan pantat ketimbang lutut cedera)
Dengan perasaan lumayan dongkol—belum lagi diwarnai jam karet yang lagi-lagi parah, dan dengan meeting point yang tidak nyaman— saya menegaskan kepada enam orang peserta yang hadir untuk maju terus pantang mundur melanjutkan perjalanan. Konyol rasanya kalau harus pulang lagi ke rumah —saat matahari belum lagi tinggi— dengan tampang bagaikan prajurit kalah perang. Kalau pun harus “menunut” truk berisi domba atau sapi, hajar saja bleh! (biasanya kalau jumlah peserta banyak, kami akan mencarter kendaraan). Namun sepertinya inilah yang namanya petualangan sesungguhnya. Tidak ada kendaraan yang siap mengantar dan menjemput, jam berapapun kami ingin pergi atau pulang.
Sesungguhnya, saya merasa agak “aneh”. Kelima peserta lainnya terdiri dari tiga laki-laki dan dua wanita muda yang semuanya berusia 20-an awal. Dengan demikian, saya merasa seperti sedang mengasuh keponakan-keponakan bermain (hehehe...).
Di kawasan Tegallega yang menjadi lokasi meeting point, kami menyetop angkot jurusan terminal Banjaran…. (atau Dayeuhkolot ya? Saya memang selalu ketukar-tukar mengenai kedua daerah ini). Sesampainya di terminal ini, kami ganti angkot ke jurusan suatu desa bernama Cimaung. Untunglah dua penumpang lain, sepasang muda-mudi, ternyata juga berniat ke Wanawisata G.Puntang dalam rangka mempererat persatuan dan kesatuan, sehingga sang sopir berbaik hati mengantar kami hingga ke gerbang pernikahan, eh…tiketing. (foto kiri: Curug Siliwangi. Hulu Cigeureuh ini tergapai juga)
Dari gerbang tiketing ini, perjalanan dimulai. Ketika sudah mulai memasuki segmen susur sungai Cigeureuh —sungai yang mengalir bening membelah Puntang— saya mulai sibuk menganalisis perjalanan kali ini. Saya sadar betul, rute ini tidak lebih berat ketimbang rute nyasar dua minggu yang lalu. Bahkan boleh dibilang amat landai. Tanjakan berat terutama hanya ada pada saat-saat menjelang sampai di curug. Akan tetapi, kenapa rute ini tidak terasa lebih ringan buat saya dibanding perjalanan yang lalu itu?
Saya menyadari adanya beberapa faktor teknis yang mungkin memperberat langkah saya, yakni selain sepatu yang tidak nyaman, mungkin juga karena jalan setapak menuju Curug Siliwangi ini berbatu-batu, sehingga menyakitkan telapak kaki yang dibalut sepatu yang "salah" ini. Yang jelas, sepanjang rute, saya stress.......
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan: jumlah peserta yang cuma enam orang dengan kemampuan fisik yang beda sendiri, membuat saya repoooot mengimbangi langkah mereka. Karena itulah, sepanjang perjalanan saya tak henti berbicara kepada teman-teman seperjalanan saya itu —semacam excuse— bahwa selain usia saya memang jauh lebih senior (halah) dibanding mereka, badan saya pun lebih “berbobot”. Saya pun ingat, ketika seumuran mereka, meski badan masih lebih langseng (heu!), saya memang tak pernah bisa konstan kalau menaiki tanjakan: problem degupan jantung yang naik ke kepala selalu menjadi domba garut, eh… kambing hitam.
Jika mengingat-ingat perjalanan pertama dua minggu lalu itu, saya termasuk peserta “menengah”, maksudnya tidak paling cepat dan juga tidak paling lambat. Dengan jumlah peserta 25 orang, ternyata memang cukup banyak yang kemampuan fisiknya sama atau bahkan lebih parah dibanding saya, sehingga saya bisa mengatur diri agar tetap berada di tengah-tengah.
Dan, karena menyadari ada peserta yang tertinggal di belakang, banyak momen buat saya untuk beristirahat, menarik napas, dan mengatur langkah. Sehingga, walaupun banyak tanjakan berkemiringan 80 derajat --sehingga nyaris-nyaris harus seperti memanjat dengan dibantu akar-akar pohon-- namun perjalanan waktu itu rasanya justru tidak serepot perjalanan rerun ini. Selain itu, psikologis saya juga tidak berontak karena menyadari masih ada peserta lain tertinggal di belakang saya, sehingga ada rasa tidak perlu ngoyo untuk mengejar peserta di depan. (foto kanan: belantara puntang. Hai burung, di manakah kau menclok?)
Dengan banyaknya waktu untuk menarik napas, saya pun cukup memiliki banyak kesempatan mencermati dan menikmati alam di sekeliling saya. Berbeda dengan perjalanan kemarin. Meski panoramanya lebih indah, namun seingat saya, tak sempat rasanya berlama-lama menikmatinya karena yang ada di kepala saya hanya bagaimana caranya supaya saya tidak tertinggal terlalu jauh dari pemuda-pemudi yang berjalan bagai dikejar satpam itu. Ah, saya tampaknya kapok “jalan-jalan” dengan formasi peserta seperti ini.
Tapi tidak ada siapa pun yang perlu disalahkan. Bahkan saya tahu, beberapa teman juga dengan sabar menunggui ketika saya kehabisan napas. Yang salah adalah ketika muncul perasaan menjadi faktor penghambat kelancaran perjalanan peserta lain. Sungguh tak nyaman. Maka, jika lain kali saya terlalu cerewet menanyakan komposisi peserta, harap makleum :). 
Curug Siliwangi
Tak jauh-jauh dari legenda rakyat Jawa Barat, nama Siliwangi yang dilekatkan pada curug ini berkaitan dengan kisah Kerajaan Pajajaran. Sebelum sampai di lokasi, teman-teman yang pernah menempuh jalur ini mengingatkan agar kami jangan berkata-kata sompral. Bahkan katanya, kalau di tengah perjalanan tiba-tiba turun kabut tebal yang (kata mereka) aneh, jangan panik. Ah, bukankah pada perjalanan pertama yang katanya berhasil mencapai ketinggian 2.000 mdpl itu, kabut yang tebaaal sekali turun tiba-tiba. Dan sebagai penggemar kabut, saya malah exciting. *Belum tau cerita apa-apa soalnya. 
 
Hingga kami kembali lagi ke parkiran, kabut yang “dijanjikan”, tak kunjung turun juga. Malah, cuaca demikian cerah cerianya seolah-olah mengingatkan bahwa waktu itu memang sedang musim kemarau, meskipun kemarau yang anomali (cekidot: http://ruri-chronicle.blogspot.com/2010/07/ada-apa-dengan-kemarau-2010.html). Sesekali, suasana menjadi mendung karena terpayungi awan tebal yang menggelayut di ketinggian pucuk-pucuk bukit. Tak mengherankan, namanya juga gunung.
Curug ini sebenarnya tidak lebih indah ketimbang curug-curug yang pernah saya lihat di Panjalu-Ciamis, tepatnya di lokasi wisata bernama Curug Tujuh-Cibolang. Namun inilah curug tertinggi yang pernah saya lihat langsung. Selain itu, sebagai penikmat alam, tidak pernah ada kata menyesal atau rugi untuk bermesraan dengan alam. Apalagi jika dia menyuguhkan “atraksi” aliran air pergunungan yang jernih, bersih, dan tak ada habisnya. Berat rasanya meninggalkan tempat ini terlalu cepat.
Saking jernih dan bersihnya, air yang jatuh melalui jeram-jeram ke bagian yang lebih dalam, menjadi tampak seperti kebiruan. Saya pun tidak sungkan (seraya berucap bismillah) meminum langsung air yang mengalir bebas ini. Rasanya sama sekali tidak berbeda dengan air minum kemasan. Meskipun memang jika diamati, ada organisma yang melayang-layang. Mungkin sejenis lumut atau gundukan plankton. Syukurlah tiga hari setelah pulang dari sana, saya memang baik-baik saja.
Satu penyesalan pada perjalanan kali ini, saya tidak mempersiapkan baterai kamera digital dalam kondisi penuh. Jadi, terpaksalah menahan untuk tidak menjeprat-jepretkan dengan boros ke segala arah yang saya mau, sebelum sampai di curug yang satu ini. Tidak lucu rasanya kalau sepulang dari Curug Siliwangi --yang juga sempat gagal dikunjungi-- saya malah tidak punya oleh-oleh gambar curug ini.
Baru setelah puas mengabadikan sang curug, pada perjalanan turun/pulang mulailah saya kalap memotret segala fenomena (yang saya anggap) unik, yang pada perjalanan pergi/naik terpaksa ditunda karena takut kehabisan baterai.
Bagaikan Besok Mau Kiamat
Perjalanan pulang, tidak berarti “aman” buat saya, meski lebih ringan. Lebih ringan karena untuk turun, jantung tidak perlu bekerja lebih keras. Bahkan saya bisa mengimbangi langkah teman-teman yang kali ini berjalan bagaikan besok mau kiamat saja.

Nyaris dalam perjalanan turun ini, saya tidak sempat menyengajakan berhenti dulu untuk mengatur napas:. Ini juga berarti tanda bahwa jantung saya baik-baik saja, tidak seperti saat perjalanan naik. Saya memang tetap tertinggal, karena saya sibuk memotrat-motret sana sini.
Tidak “aman”-nya karena untuk perjalanan turun, lutut-lah yang harus bekerja ekstra keras. Selain itu, jalan setapak berbatu rasanya kian memerihkan telapak kaki saya. Pada beberapa turunan yang tajam, saya bahkan sudah tidak mampu untuk tetap berdiri pada kedua kaki. Jurus pamungkas suster ngesot terpaksa dikeluarkan.

Belum lagi sakit kepala mulai datang mendera, karena berjalan turun berarti harus sedikit meloncat-loncat, kaki tersentak-sentak demi berkompromi dengan gravitasi, dan dengan begitu kepala pun itu terhentak-hentak. Dengan kondisi yang agak limbung begitu, saya tidak mau ambil risiko terpeleset saat harus meloncati batu-batu sungai yang licin, apalagi dengan sepatu yang kurang mendukung ini. Maka, saya memilih masuk sungai saja, berbasah-basahan, biarlah sepatu jebol pun.
Sesampainya di pelataran dekat reruntuhan Radio Malabar (lihat juga tulisannya di: http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/06/berburu-halimun-malabar.html), yang artinya sudah dekat dengan warung-warung dan tempat parkir kendaraan, saya menolak untuk meneruskan perjalanan ke Curug Cikahuripan. Padahal katanya lokasinya hanya perlu berjalan 10 menit saja. Ah….dengan kaki yang sudah nyorocod begini? No way bin sori la yauw!(ruri andayani)

Sunday, October 17, 2010

CITATAH: "THE GREAT BARRIER REEF"-NYA PADALARANG

DI tengah hiruk pikuk lalu lintas Jalan Raya Pos dan gelegar dinamit yang menghancurkan bukit-bukit karst, sang “janin" meringkuk damai dalam kehangatan rahim Gua Kopi, 6000 tahun lamanya. Padahal tak cuma suara dinamit yang bikin bising suasana, melainkan juga suara mesin-mesin berat (bekhoe) yang sibuk menggerus dinding-dinding kapur itu saban hari, berikut pabrik-pabrik pembarakan kapurnya yang kerap mengepulkan asap hitam berracun. (foto kiri: replika fosil Manusia Pawon yang ditempatkan persis dengan saat ditemukannya)

Suatu hari di tahun 2003, kedamaian sang janin terusik oleh sekelompok “bidan” dari Balai Arkeologi Bandung. Mereka —lengkap dengan peralatan operasinya— datang untuk melahirkan “kembali” sang janin ke dunia kontemporer, dunia saat struktur wajah cucu moyangnya sudah jauh lebih cakep, meski sama-sama masih dari jenis Homo sapiens. Pembedahan oleh para arkeolog ini menindaklanjuti temuan sejumlah artefak di lokasi sama tiga tahun sebelumnya oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung. (foto kanan: Gunung Hawu. Hawu dalam Bahasa Sunda berarti kompor, karena bentuknya yang mirip kompor tradisional. Bentukan ini tergolong langka bahkan di dunia. Di negara-negara maju, "natural arch bridge" seperti ini dilindungi oleh undang-undang sebagai warisan alam)

Sejak ditemukannya fosil sang janin di Gua Kopi —yang merupakan salah satu dari banyak ceruk kecil yang berada di dalam “komplek” gua utamanya yakni Gua Pawon— ceruk kecil ini kini dipagari pagar besi tinggi. Namun dari luar pagar, kita masih bisa menyaksikan replika fosil tersebut dalam posisi seperti saat ditemukan, meskipun kondisinya sudah menghijau oleh lumut. Fosil aslinya, dikabarkan sudah dibawa pihak Balai Arkeologi (Balar) Bandung ke markasnya di Cinunuk, timur Bandung. (foto kiri: Gunung masigit sudah botak. Penggalian di sini sudah dihentikan, tapi penambang berpindah ke tetangganya, Pasir Bancana--pasir dalam Bahasa Sunda berarti bukit)

Saat ditemukan di kedalaman tak lebih lebih dari dua meter dari lantai Gua Kopi, fosil yang diduga dari ras Mongoloid tersebut berada dalam posisi meringkuk, bagai janin saat masih berada di dalam perut ibunya. Dari sini lah kemudian diduga, Si Manusia Pawon ini sengaja dikuburkan oleh sesamanya pada 6000 tahun lalu itu. Boleh jadi kematiannya sebagai bagian dari suatu ritual, karena bersama fosil sang janin terdapat dua fosil lainnya. Atau bisa juga mereka mati karena suatu hal, lalu dikubur bersama dalam satu liang. Namun yang pasti, sang pemilik kerangka ini tidak mati terkubur tak sengaja di gua tersebut karena suatu bencana alam misalnya.(foto kanan: pemandangan asap hitam di kawasan ini sudah biasa)

Gua Pawon, seperti sudah dituliskan dalam resensi buku Amanat Gua Pawon (lihat: http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/07/karst-citatah-terumbu-karang-oligo.html) adalah bekas terumbu karang laut dangkal berumur oligo-miosen (30-20 juta tahun lampau). Jadi, pada saat itu, kawasan Citatah-Padalarang bagaikan "The Great Barrier Reef" yang memanjang hingga Sukabumi. Susunan sisa-sisa terumbu karang ini dikenal dengan nama Formasi Rajamandala. Karena itu, jika beruntung kita bisa saja menemukan fosil-fosil makhluk laut seperti foraminifera di sini.

Bayangkan jika kawasan yang secara administratif berada di Kampung Cibukur, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini suatu waktu lenyap dari muka bumi, maka benang merah sejarah terbentuknya kawasan yang pernah disinggahi manusia purba ini akan hilang. Temuan Manusia Pawon sendiri seharusnya bisa menjadi momentum untuk dimulainya konservasi atas kawasan ini. (foto kiri: alat berat tak henti menggepur kawasan ini, mungkin hingga rata dengan bumi)

Kecemasan tersebut saat ini agaknya semakin beralasan. Kendati berbagai itikad baik, bahkan hingga tingkat pusat, sudah ada, namun tak ada yang bisa menjamin penyelamatan kawasan ini. Termasuk menjamin bagaimana nasib ribuan warga yang terlanjur menggantungkan periuk nasinya pada penambangan di sini, untuk beralih profesi jika ternyata pemerintah bisa bersikap tegas menghentikan eksploitasi Karst Citatah.

Kepentingan industri dan banyaknya masyarakat yang dibiarkan sejak akhir 1950-an menggantungkan mata pencahariannya dari penambangan kapur di kawasan ini, menjadi kendala yang sangat besar dan berat. Belum lama ini misalnya, para penambang/buruh dan pengusaha melakukan demonstrasi di kantor Desa Citatah untuk menolak penutupan penambangan di kawasan ini.

Sulitnya lagi, perusahaan yang "bermain" di kawasan ini termasuk perusahaan-perusahaan besar macam Semen Gresik yang truk-truknya sering terlihat berada di sana. Padahal secara hukum pun hal tersebut sudah menyalahi aturan karena lokasi usaha Semen Gresik tidak terdapat di wilayah Jawa Barat. (foto kanan: salah satu lubang yang bagaikan jendela di salah satu "ruang" di Gua Pawon, tempat ditemukannya fosil si Manusia Pawon)

Ironisnya, meski menyangkut pundi-pundi yang bisa bernilai miliaran untuk para pengusaha yang ada di hilir dalam hitungan bulan, namun penghasilan para buruh tambang Citatah setiap minggunya tak lebih hanya dalam hitungan 50-100 ribu. Kian ironis ketika para buruh tersebut tak punya pilihan lain, sementara pemerintah pun tidak bisa memberi pilihan pada mereka. Beginilah nasib masyarakat yang hidup di negeri sarat korupsi. Di sisi lain, pemerintah daerah pun sebenarnya hanya kecipratan pemasukan (PAD) yang sangat kecil dari pajak galian C, yakni hanya dalam hitungan 100-300 juta saja setahunnya.

Tampaknya komitmen Pemkab Bandung Barat terhadap upaya pelestarian kawasan ini harus lebih diperkuat. Suatu penataan yang komprehensif, harus dilakukan. Mulai dari pengalihan mata pencaharian warga, dan adanya law enforcement (kemauan hukum) yang kokoh dan dipatuhi semua pihak. (foto kiri: menatap Karang Panganten dari atas Gunung Hawu)

April lalu, tersiar kabar bahwa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata telah mendaftarkan Situs Gua Pawon sebagai Cagar Alam Warisan Dunia kepada UNESCO (Organisasi PBB yang mengurusi masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya). Namun melihat kondisi Citatah yang kian hancur, dan konflik kepentingan di sana yang sudah sedemikian kompleks, sejumlah kalangan merasa pesimistis. (lihat: http://oase.kompas.com/read/2010/08/31/02075964/Fosil.Kembali.Ditemukan.di.Gua.Pawon).

Memang, penggerusan terhadap Gunung Masigit sudah dihentikan. Begitu juga dengan penambangan fosfat/guano (kotoran kelelawar) di dalam Gua Pawon. Namun faktanya, eksploitasi kawasan karst Citatah tidak lantas berkurang. Para penambang kini terlihat memindahkan aktivitas mereka ke bukit tetangga Gunung Masigit, yakni ke Pasir Bancana (dalam bahasa Sunda, pasir berarti bukit). (foto kanan: Stone Garden di puncak Pasir Pawon)

Masyarakat yang terlanjur menggantungkan periuk nasinya pada eksploitasi Citatah, tidak bisa begitu saja diminta menghentikan kegiatannya. Mereka harus diberi “mainan” baru. (ruri andayani)

Sunday, July 25, 2010

Karst Citatah: Terumbu Karang Oligo-Miosen yang Terancam Punah

Judul : "Amanat Gua Pawon"
Harga :
Rp 50.000
Penyunting : Budi Brahmantyo dan T.Bachtiar
Jenis buku :
Bunga rampai (berisi artikel 20 penulis dari beragam profesi)
Penerbit: Kelompok Riset Cekungan Bandung

UNTUK yang sering bolak-balik Bandung-Jakarta melalui jalur Sukabumi-Cianjur-Padalarang, pastinya tidak asing dengan kawasan Tagog Apu - Citatah. Di daerah ini, sejenak kita akan terhibur oleh panorama bentang alam yang berbeda dibanding di jalur lain. Yaitu, panorama perbukitan karst (batu gamping/kapur) dengan jalannya yang berkelok-kelok, mengingatkan kita pada puisi-puisi Ramadhan KH, Priangan Si Jelita: ....berbelit jalan ke gunung kapur.

Tahukah? Jika kita menyusuri jalan “buatan” Herman Wilhelm Daendels (Gubjen Hindia Belanda periode 1808-1811) yang menghubungkan Jakarta Bandung ini pada 30 juta tahun lalu, kita akan berada di dasar suatu laut dangkal yang kaya terumbu karang. Bagaikan sedang menyelam di perairan The Great Barrier Reef. Atau jika terbang di atasnya, seperti sedang ber-snorkling di taman laut Bunaken yang indah. Bukti sejarah geologis tersebut masih terrekam sampai detik ini, berupa rangkaian perbukitan batu gamping, khas sisa-sisa laut dangkal, berumur oligo-miosen (30-20 juta tahun lampau).

Dari sudut pariwisata/olahraga, lokasi ini sering digunakan para pedaki tebing untuk menjajal kemampuannya. Namun sayang, perbukitan kapur yang menyimpan sejarah sangat menarik ini juga dimanfaatkan perusahaan-perusahaan yang sekedar ingin mengeruk keuntungan dari bongkahan-bongkahan batu kapurnya.

Tak heran jika di sana kita seringkali melihat pemandangan aktivitas alat-alat berat seperti ekskavator atau backhoe, tengah merayapi bukit-bukit yang tampak sudah gundul dan memutih memperlihatkan isinya. Bukti sejarah Geologi yang luar biasa ini, sedang dalam tahap penghancuran!

Pada 2003, ditemukan fakta kawasan ini pernah disinggahi manusia prasejarah. Terbukti dari ditemukannya fosil manusia dari spesies Homo sapien awal, berusia 11-10 ribu tahun. Fosil ini ditemukan meringkuk di kedalaman lantai Gua Kopi – Gua Pawon, lokasi yang juga sering digunakan para pedaki tebing karena di dalamnya terdapat tebing yang cukup menantang.

Menanggapi hal tersebut, 20 penulis dengan latar belakang beragam : geolog, wartawan, seniman, arsitek, pendaki gunung, dll, mencoba mencurahkan perasaannya di dalam buku ini. Keseluruhannya bernada kepedulian akan perlindungan warisan alam perbukitan batu kapur Citatah-Rajamandala secara umum, dan Gua Pawon pada khususnya, yang wajahnya kini sudah bopeng-bopeng. Selamatkan Karst Citatah!! (ruri andayani)

***

Untuk info pembelian:
@Tulis email ke ruri_and@yahoo.com

(pengiriman akan dilakukan lewat ekpedisi: Tiki ataupun Posindo).

"Karena kesulitan memperoleh stok buku ini, maka pembelian minimal harus 5 eksemplar"

Tuesday, July 13, 2010

MENYUSURI BENINGNYA CITARUM ASLI

PERTAMA kali mengunjungi Gua Sanghiangtikoro —saat masih di SMP bersama ayahanda ytc alm— penulis heran. Saguling, nama daerah tempat Sanghiangtikoro berada, terletak di dataran rendah. Seingat penulis waktu itu di daerah ini tak ada gunung api, dan memang tak ada, meskipun di sana terdapat sumber air panas. Tapi kenapa bau belerang begitu menyengat?

Tak jauh dari Sanghiangtikoro, terdapat pipa pesat milik PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Saguling. Ke dalam terowongan ini, air berkapasitas raksasa diluncurkan agar menghasilkan listrik untuk memasok Jawa-Bali. Penampilannya “megah”, berwarna oranye, sehingga menarik perhatian. (foto kiri: gua dengan sungai bawah tanahnya: Sanghiangtikoro)

Dan tahukah dari mana air yang diluncurkan melalui pipa pesat tersebut berasal? Dari saluran-saluran kotoran perumahan; saluran pembuangan limbah industri: pabrik, rumah sakit, peternakan; sampah rumah tangga maupun industri, hingga erosi tanah-tanah pucuk yang terkadang sudah tercemari pula oleh pupuk-pupuk kimia. Segala tetek bengek itu —baik yang langsung masuk Citarum maupun yang dipasok sungai-sungai kecil macam Cikapundung— bersatu di daerah aliran sungai (DAS) Citarum, dan terbendung di Waduk Saguling.(foto kanan: pipa pesat PLTA Saguling)

Awal 2000-an, pernah terjadi bencana. Ikan-ikan yang dibudidayakan pada jaring apung (japung) di Waduk Saguling, pada koit. Nelayan japung rugi besar. Seingat penulis, waktu itu tersiar berita bahwa musim hujan telah memasok debit besar ke Waduk Saguling, dan mengocok isi perut telaga buatan itu.

Maka, segala racun yang telah mengendap di dasar waduk membuncah, dan menyebabkan air pada level permukaan teracuni atau kehilangan oksigen (kira-kira begitu). Tak heran jika ikan-ikan pada megap-megap dan lalu menemui ajalnya. Keadaan air yang berracun ini juga diduga disumbang oleh pakan ikan yang diproses secara kimiawi, dan digrojok terus ke dalam air Saguling. (foto kiri: indahnya warna-warni sampah dari sungai-sungai "kecil" yang dipasok ke Citarum. Pemandangan khas sungai-sungai kota besar di Indonesia, khususnya Bandung, umumnya Jawa Barat. Berbanding sejajar dengan budaya nyampah warganya yang aujubilah)

Untuk lebih ilmiahnya, seorang aquatic ecologist, Dr Sutrisno Sukimin, menyatakan, salah satu penyebab mati masalnya ikan-ikan di waduk adalah karena terjadinya penyuburan unsur hara (tropikasi) pada sedimentasi waduk. Tropikasi ini membuat plankton yang tidak dibutuhkan oleh biota waduk, mendominasi ekologi waduk. Akibatnya, keragaman ekologi akuatik waduk—termasuk ikan-ikan yang dibudidayakan di japung— terancam jiwanya. Apalagi, kualitas air baku waduk juga menurun dan mulai tercemar logam berat. Padahal, air waduk ini merupakan cadangan air tawar untuk air minum juga, hiiyyy!!!

Air Citarum berracun yang terbendung Saguling ini lah yang meluncur melalui pipa pesat, lalu dilepaskan ke Citarum segmen Sanghiangtikoro. Bisa dibayangkan, air model apa yang telah mengaromai Sanghiangtikoro. Dilihat kasat mata saja, air ini sungguh tak segar. Warnanya agak hijau, bukan hijau karena refleksi lumut atau plankton, dan berbusa. Sepertinya lengket jika terkena kulit. Kandungan logam beratnya pastinya juga sudah tinggi. Dari air yang kondisinya seperti ini lah bau belerang tersebut menguar—bau air berracun.














World's Most Poluted River: Citarum.... oh Citarum!!


Maka tak berlebihan jika satu lembaga dunia mencap Citarum sebagai "World's Most Poluted River" pada 2008 lalu. Dan tampaknya —tanpa harus mengikuti kompetisi pun— Citarum akan mempertahankan predikat juara bertahan sebagai sungai terkotor di dunia itu hingga kini! Mmmhh... bangganyaaa!!! (*notorious)

Citarum adalah sungai terpanjang di Jawa Barat. Panjangnya mencapai 225 kilometer. Riwayat alirannya dimulai dari mata airnya di Gunung Wayang (Pangalengan-Kabupaten Bandung). Di perjalanan, ia mendapat pasokan dari berbagai sungai kecil termasuk Cikapundung yang alirannya melewati Kota Bandung, (dan kondisinya sama busuknya). Alirannya berakhir di suatu wilayah bernama Muara Gembong (Kabupaten Karawang dan Bekasi).

Kembali ke Sanghiangtikoro. Di lokasi ini, dua kontradiksi Citarum bertemu. Faktor penentu kontradiksi ini pertama adalah, air "sari limbah" dari pipa pesat dihempaskan ke Citarum sekitar Sanghiangtikoro (yang bercabang dua: ke sungai yang bercabang ke kiri, dan ke sungai cabang kanan yakni yang masuk ke dalam mulut Sanghiangtikoro). Namun keduanya akhirnya bergabung lagi ke Citarum yang melewati Desa Bantarcaringin, yang lokasinya tak jauh dari Sanghiangtikoro (foto kiri: aktivitas warga Bantarcaringin di Citarum: Seorang anak tampak mahir bermain selancar-selancaran di sungai yang menguarkan bau belerang ini)

Warga Desa Bantarcaringin, sudah sangat “fasih” dengan sungai ini. Kita boleh ber-sniff-sniff-ria menghirup bau belerang menyengat, namun anak-anak warga setempat dibiarkan tetap ceria bermain di lebar dan derasnya Citarum hilir ini (atau tepatnya agak hilir), dan bahkan menjadi perenang-perenang otodidak. Gangguan kesehatan akibat seringnya bersentuhan dengan air limbah ini mungkin baru akan terasa saat usia mereka lebih dewasa kelak.

Sedangkan faktor penentu kedua adanya kontradiksi ini adalah: terdapatnya aliran Citarum yang bersih, di mana “orang-orang kota” tak sungkan-sungkan nyebur ke dalamnya. Di aliran ini, Citarum boleh dibilang tak tercemar produk bikinan manusia. Citarum segmen inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini, yakni berdasarkan pengalaman penulis menjajal lokasi ini dua kali, termasuk saat kegiatan “Jajal Geotrek IV” pada 8 Mei 2010 lalu.

Kontradiksi ini buat penulis sangat menarik, karena dua hal yang saling bertentangan saling bertemu: Citarum asli dan Citarum yang sudah tergadaikan keasliannya. Dan ini mungkin hanya bisa terjadi di Indonesia, di Jawa Barat…. di Citarum.

***

SEGMEN YANG TERPUTUS DARI HULU ASLINYA DI GUNUNG WAYANG------ Citarum asli yang dimaksud dalam artikel ini, sesungguhnya boleh dibilang sebagai sungai mati. Seandainya tidak ada mata-mata air di sekitarnya, niscaya sungai ini akan kering. Bagaimana mungkin? Karena dengan dibendungnya sungai ini untuk keperluan PLTA Saguling, maka terputuslah sungai segmen ini dari mata air aslinya di Gunung Wayang-Pangalengan. Karena itu Citarum segmen ini menjadi tak ubahnya sungai yang alirannya disodet.

Keterangan gambar: Garis hijau adalah aliran Citarum yang "mati" karena hulunya dibendung (di sinilah kami bersukaria menikmati keaslian alam). Bendungan Saguling dengan waduknya, dapat diamati pada pada posisi kanan bawah. Garis hitam adalah garis imajiner bikinan penulis (pada gambar aslinya tidak tampak adanya aliran menuju pipa pesat) yang kira-kira merupakan jalur sodetan air dari Waduk Saguling menuju pipa pesat (ujung atas garis hitam). Citarum pun terputus dari sumber aslinya. --- gambar diunduh dari Google Earth.

Namun begitu, Citarum asli kini bagaikan museum alam. Andai tak akan pernah ada pembangunan yang merecokinya, tak akan pernah ada perumhan di sekitarnya, maka sungai segmen ini dapat menceritakan pada setiap generasi mengenai kondisi Citarum yang hakiki, yang asli, yang terbentuk karena proses alam, tanpa keterlibatan manusia. Bahkan ternyata, lingkungannya masih sanggup memberikan kehidupan bagi Elang Jawa, biawak/kadal raksasa (setidaknya dua hewan inilah yang menampakkan diri saat kami berada di sana), dan mungkin hewan-hewan liar lainnya. Jadi, tolong jangan ganggu "kami"..........

****

Sang “Tenggorokan Dewa”

MESKI tak perlu waktu lama untuk mengamati keluarbiasaan fenomenanya, namun Gua Sanghiangtikoro yang melahap rakus air Citarum (yang berlimbah) ini, tak pernah membuat penulis bosan untuk menatap dan menatap lagi ke arahnya, seolah berharap tiba-tiba ada naga keluar dari dalamnya. Tangan pun tak bisa ditahan untuk tak merogoh kamera dan kembali menjepretkannya untuk ke sekian kali ke arah liang “tenggorokan sang dewa” ini, dari sekian kali kunjungan ke lokasi ini (padahal hasilnya tidak pernah jauh berbeda).

Dulu, Sanghiangtikoro “dituding” sebagai penyebab bobolnya Danau Bandung Purba. Sehingga di masa-masa sebelumnya, selalu ada wacana semi anekdot bahwa jika Sanghiangtikoro tersumbat, maka Bandung akan kembali menjadi danau. Namun seorang geolog ITB –yang juga penulis buku WBCB– menyusun teori baru bahwa tak mungkin air jebol di sini sebab posisi danau purba tersebut jauh lebih tinggi, dan di posisi lebih tinggi tersebut ada perbukitan yang menghalangi yang boleh jadi merupakan dinding barat laut Danau Bandung Purba. Maka, ditunjuklah “biang keladi” baru, yaitu satu celah antara dua bukit. Bukit sebelah kirinya bernama Pasir Kiara, dan bukit sebelah kanannya bernama Puncak Larang. Teorinya, bukti ini dahulunya bersatu, namun kemudian pada 16.000 tahun lampau, bukit karst ini jebol karena gerusan air Danau Bandung Purba.

Citarum Asli (Loh!)

Di “plaza” pandang Sanghiangtikoro, kontradiksi Citarum asli dan Citarum “palsu” bisa diamati dengan jelas. Di ujung “plaza” ini, air Citarum yang keluar dari pipa pesat diatur oleh satu instalasi –bentuknya mirip instalasi irigasi. Dari posisi ini pula, kita bisa menyaksikan panorama purba dari Citarum asli. Setiap kali mendatangi lokasi ini, penulis selalu penasaran pada sungai lebar dengan batu-batu besarnya yang berserakan nun di sana. Maka, saatnya mengurai rasa penasaran ini.

Untuk mendapati jalan setapak di sisi segmen Citarum asli ini kita bisa sekalian melewati lokasi terdekat ke pipa pesat oranye nan “megah” tersebut. Peserta Jajal Geotrek (JG) IV, sudah pasti tak melewatkan kesempatan berpose dengan latar belakang pipa raksasa ini. Hanya beberapa meter dari sini, kita sudah berada di sisi Citarum asli ini.

Salah satu pemandangan saat baru memasuki segmen Citarum asli ini adalah adanya para "petani pisang" yang lincah meloncati batu-batu di sungai sambil memikul tandan-tandan pisang yang masih hijau. Dari mana pisang-pisang tersebut?

Susur Citarum asli belum benar-benar dimulai. Momentum untuk mulai menggauli sang warisan alam purba ini akan dimulai setelah kita melalui Gua Sanghiangpoek. Ini sesi yang tak boleh dilewatkan karena di dalam gua karst ini ada fenomena alam menarik meski tidak semenarik gua-gua yang terdapat di Maros (Sulawesi) atau Sukabumi misalnya.

Gua Sanghiangpoek tidak terlalu dalam. Dari pintu masuk hingga keluar lagi, panjangnya tak lebih dari 100 meter (?). Namun gua ini menjadi pelengkap penting paket perjalanan susur Citarum ini. Gua Sanghiangpoek masih “hidup”, ditandai dengan masih adanya stalaktit yang meneteskan air. Beberapa stalagtit yang tampak berkilauan tertimpa cahaya senter, menjadikannya objek yang menarik sekali untuk dijepret puluhan kamera yang dibawa peserta JG IV.

Di lorong-lorong gua, tampak batang-batang pohon berserakan. Rupanya ini sisa “banjir” besar beberapa minggu sebelumnya, yang juga telah meruntuhkan jembatan Bantarcaringin. Sedikit mengulas peristiwa runtuhnya jembatan tersebut, saat musim hujan sedang berat-beratnya sekitar Februari lalu, pihak PLTA Saguling yang mungkin cemas dengan debit air yang meninggi di Waduk Saguling, membuka pintu air terlalu lebar. Akibatnya, air menggelontor terlalu besar dan menghajar jembatan rapuh Desa Bantarcaringin, jembatan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Tingginya curah hujan waktu itu, memang menimbulkan kecemasan bahwa bendungan PLTA Saguling akan bobol. Jika sampai terjadi, ini akan mengingatkan kita pada peristiwa jebolnya bendungan Situ Gintung di Jakarta, dan pastinya akan memakan korban lebih banyak karena besarnya kapasitas Bendungan Saguling. (foto kiri: stalagtit yang masih hidup, yang berkilauan jika tersorot cahaya)

Keluar dari Gua Sanghiangpoek, kita dihadapkan pada lantai batuan karst yang curam dan tajam, yang di bawahnya langsung bertemu aliran Citarum asli. Untuk turun dari mulut gua ini, harus ekstra hati-hati. Tangan harus ikut bermain untuk menyokong pijakan kaki. Namun begitu, ada semacam beranda cukup landai di depan mulut gua sehingga kita masih bisa duduk-duduk sambil menatap aliran Citarum asli di depan. Wow, keren!!

Penulis memperoleh dua kali pengalaman berbeda di lokasi ini. Saat melakukan survei seminggu sebelumnya, kemarau 2010 seolah-olah baru dimulai. Debit air yang tenang karena tak ada hujan sejak beberapa hari sebelumnya, membuat genangan-genangan air di bagian-bagian sungai yang lebih dalam tampak bening dan menghijau karena pantulan lumut, dan juga merefleksikan bebatuan di atasnya dengan sempurna. Namun saat hari H, aliran sungai lebih deras sehingga membuat warna air sungai sedikit lebih keruh. Waktu itu, iklim mulai menampakkan anomalinya. Seingat penulis, hingga saat tulisan ini dipublikasikan, kemarau sempat terasa selama semingguan saja. Setelah itu, tersiarlah istilah "kemarau basah".

Di sepanjang aliran sungai antara Sanghiangpoek – Leuwi Gobang – hingga Leuwi Malang, banyak ditemukan sumber mata air yang mengalir dari tebing di sisi kiri sungai, membentuk jeram kecil. Sewaktu survei, rekan-rekan dari Muthahhari Adventure Team (MAT) bahkan mengaku bahwa mereka memasak air teh dan mi instan dari air yang menggenang. Namun sepulang dari survei, toh tak ada yang mengaku sakit akibat mengonsumsi air dari sumber air terbuka ini, termasuk penulis.

Susur Citarum sepanjang sekitar dua kilometeran ini hingga ke lokasi bernama Pasir Malang, cukup menguras tenaga. Pasalnya, meloncati dan memanjati bebatuan bukan perkara mudah. Namun cuaca yang mendung pada hari H (bahkan akhirnya hujan lumayan rapat, berpetir pula) sedikit banyak dapat menyimpan cadangan tenaga, ketimbang jika cuaca panas seperti saat melakukan survei. Tapi gara-gara hujan juga, beberapa rencana seru terpaksa dibatalkan dengan alasan keselamatan. Rencana itu antara lain untuk mengunjungi Sanghiangheuleut, bahkan Curug Halimun seperti yang dijanjikan diawal. (foto kiri: Sanghiangheuleut. Untuk mencapai lokasi ini, perlu perjuangan agak berat)

Kian ke hulu, pemandangan Citarum asli ini memang kian bikin mulut menganga. Pada kesempatan survei, penulis memaksakan terus ikut hingga Sanghiangheuleut. Panoramanya memang makin eksotis. Ukuran batu kian besar dengan bentukan-bentukannya yang juga makin unik, antara lain fenomena pothole. Sebenarnya, di dekat Sanghiangpoek juga ada pothole, namun bentuknya tidak seunik di posisi lebih ke hulu.

Pothole terjadi karena pusaran air yang menggerus batuan yang tentunya memerlukan waktu ribuan tahun. Mengambil pelajaran dari fenomena alam ini, satu pepatah dalam bahasa Sunda mengatakan: ci karacak ninggang batu laun-laun jadi legok --air yang berjatuhan terus-menerus pada batu, akan membuat batu tersebut lambat laun menjadi cekung.

Namun perjuangan untuk mencapai lokasi ini, agak-agak bertaruh nyawa. Lebay? Tidak juga. Karena kalau terpeleset sedikit saja, kepala bisa membentur batu-batu besar yang terkadang bertekstur tajam. Cara teraman, sebenarnya lebih baik kalau menceburkan diri saja ke dalam sungai. Sayangnya, di beberapa bagian sungai, kedalamannya bisa lebih dari satu meter, dan kita tidak pernah tahu ada apa di dasar sungai tersebut. Padahal para peserta perlu juga mengamankan peralatan tempur yang rawan air seperti ponsel dan kamera. Jadi, Curug Halimun bagi penulis juga masih menjadi misteri, meskipun katanya tempat ini bisa ditempuh dari lokasi lain di hulu, bukan dengan susur sungai dari hilir.

Dengan turunnya hujan di bulan-bulan yang justru harusnya kemarau, mengingatkan penulis pada JG III ke Tangkubanparahu. Saat itu, persiapan peserta menghadapi kemungkinan hujan, cukup baik, karena memang diselenggarakan di bulan-bulan yang masih musim penghujan. Sampai-sampai beberapa kecewa karena hujan tak turun. Sebaliknya dengan JG IV. Banyak yang tidak siap menghadapi hujan karena menduga kemarau sudah tiba. Penulis pun sengaja tidak membawa jas hujan, dan berharap bisa teratasi dengan topi saja. Eeeh... bahkan topi pun tertinggal. Untung seseorang telah berbaik hati meminjamkan topinya karena ybs sudah membawa jas hujan (terima kasih Mbak Suzanna).

Dengan agak kecewa, peserta kembali ke Sanghiangpoek. Namun kali ini tidak menyusuri sungai, melainkan melalui jalan setapak yang biasa dilalui para petani pisang. Bicara soal pisang, jika memandang ke tebing-tebing di sisi kiri dan kanan sungai, vegetasi kawasan ini tampaknya sudah sangat berubah. Sungguh aneh di tebing-tebing dengan kemiringan hampir 60-70 derajat itu, banyak ditumbuhi pohon pisang.

Ada dua keprihatinan yang membuncah di kepala: pertama, masyarakat miskin yang memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk bertani walaupun dengan kontur tanah yang sulit. Kedua, rusaknya vegetasi asli kawasan, yang tentu saja bisa mengundang bencana alam. Mana yang harus dibela? Yang seperti ini memang hanya bisa terjadi di negara miskin dan korup macam negeri ini.

***

Akhirnya, pesta yang sebenarnya, terjadi di pelataran depan Gua Sanghiangpoek. Hujan pula yang membuat acara rehat kopi di lokasi ini menjadi amburadul. Namun sejumlah peserta tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melepaskan penat hati dengan menceburkan diri ke sungai. Meski agak keruh, air sungai Citarum asli ini sama sekali tidak berbau.

Sebagai pembuat susunan huruf-huruf "JAJAL GEOTREK" tersebut (taela!, heu!) sungguh tak dinyana ada yang memiliki ide membentang huruf-huruf tersebut di “dalam” air. Tapi, tak ada niatan untuk menyelamatkan konfigurasi huruf tersebut karena kondisinya memang sudah lepek, basaah!! Ah, ya sudah lah, meski mengguntinginya sambil menahan kantuk semalam suntuk, tapi susunan huruf-huruf itu toh cuma dibuat dari kertas poster "Rectoverso" yang “sumbernya” masih berlimpah (?) Akankah ada semalam suntuk kedua untuk membuatnya lagi? i dont think so... (Ruri Andayani)

***












Citarum Segmen Sanghiangpoek. Air yang begitu tenangnya , setelah lama tak turun hujan pada Mei lalu (kirain kemarau mulai "serius"), merefleksikan bebatuan dengan jernihnya.


(Mengenai Citarum sebagai sungai paling kotor sedunia, ada yang menyanggahnya. Silakan buka link ini: http://sobirin-xyz.blogspot.com/2010/09/sobirin-citarum-bukan-yang-terpolusi.html)

Sumber foto tamu:

@http://www.mnn.com/sites/default/files/imagecache/node-gallery-display/photos/Citarum.JPG

@http://www.jonco48.com/blog/deadfish_small.jpg

@ https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1hFKH-TMUagk_iRJLnCEH-L9zc4keW0ue5TxcSfFEEFUDXmBKW5ECw-UuLpPtDcWL_IHJbQJWyVcx83YFTaLCCbwqmcBsCsMm5CvPuek-UXFhTf8exKTnbYduaENNPwPA19zJ4LOQp1va/s400/rubbishRiver1.jpg