Friday, July 9, 2010

MEMBEDAH ISI PERAHU YANG TERBALIK ITU

*Sekilas tentang G.Tangkubanparahu
*Sekilas Bandung Vooruit

Kawah Domas yang sudah pias oleh fenomena material vulkanis, kian memucat: kabut mulai turun. Di kejauhan, gelegar guntur terdengar bersahutan. Setitik dua titik air, terasa dingin di kulit kepala. Cemas? Sedikit. Kecemasan itu banyak terobati oleh indahnya suasana Kawah Domas di bulan-bulan yang masih musim penghujan ini, Februari, tepatnya hari ke-27, tahun ke 2010.

Akankah turun hujan? berdasarkan pengalaman menyurvei jalur yang sama pada 20 Januari lalu, hujan deras mengguyur
tepat saat kami berada di tengah-tengah rimba antara Kawah Domas dengan perkebunan teh Hegarmanah-Ciater.

Maka, seperti biasa, untuk ha
ri H-nya "mitigasi bencana" ditetapkan. Para calon peserta Jajal Geotrek jilid III diwanti-wanti agar membawa jas hujan, baju ganti, dan segala preparat yang bisa melindungi benda-benda rawan air dari kebasahan. (foto kiri: citra Gunung Tangkubanparahu, diambil dari mobil yang sedang melaju di atas jalan layang Paspati)

Yang mencemaskan, tidak semua peserta menurut atau mengetahui info tersebut. Ada yang memang tidak peduli dan siap berhujan-hujanan, ada yang beralasan belum memili'i, berat, dan ada juga yang memang kurang memperoleh informasi. Lebih mencemaskan lagi, yang tidak prepare dengan dengan segala ancaman hujan ini justru peserta paling senior, Dr Gunawan.

Pertama kali saya mengenal Dr Gunawan adalah saat mengikuti Tur Megalitik Gunung Padang Agustus 2009. Saat bertemu lagi di Jajal Geotrek III, style-nya tidak berubah, tetap dengan kaos lengan pendek, topi jepun, dan tas yang diselempangkan begitu saja di pundak, seperti orang mau sekolah saja. Dan….. waduh, dia nggak bawa jas hujan atau payung pun.

Tapi alhamdulillah, segmen paling mencemaskan karena berada pada jam-jam yang biasanya turun hujan —yakni jungle walk antara Kawah Domas dan perkebunan teh— berhasil dilewati semua peserta dengan selamat. Ancaman hujan besar yang sudah terasa sejak di Kawah Domas, ternyata tidak terbukti. (foto kanan: trek menurun menuju Kawah Domas)

Saat perkenalan di Taman Ganesha —meeting point langganan Jajal Geotrek— Dr Dadang Kurniadi, peserta setia Jajal Geotrek, memperkenalkan Dr Gunawan kepada saya sebagai mantan pimpinan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pusat. Maka kemudian tersiarlah anekdot bahwa hujan tidak jadi turun karena ada “pawangnya”.

Lucunya, justru terselip “penyesalan” pada beberapa peserta, kok gak hujan? Padahal sudah berat-berat bawa jas hujan, payung, sepatu ganti, tutup ransel, dsb, dsb….. Lebih kasihan lagi yang sudah bela-belain beli jas hujan, padahal harganya gak murah juga (secara, ini pengalaman pribadi, hehe!!). Ah tapi….jas hujan kan bukan barang yang bakal busuk. So, lain waktu pasti terpakai lagi, apalagi buat para penjarambah leuweung seperti kita-kita ini.

Sejarah Gunung Tangkubanparahu
Tangkubanparahu adalah panorama alam yang paling banyak menyita perhatian untuk setiap orang yang sedang berada di Bandung. Meski proses pembentukan gunung ini menjadi seperti perahu terbalik sebenarnya proses lumrah, khususnya pada gunung-gunung jenis strato, namun "pemangkasan" pucuknya yang rapi sehingga menjadi berbentuk seperti perahu terbalik, sungguh menarik padangan mata.

Gunung berketinggian 2084 meter ini, bukanlah gunung utama. Dia merupakan anak dari gunung induknya yang dikenal dengan nama Gunung Sunda. Dinding kaldera Gunung Sunda ini masih bisa dilihat sisa-sisanya di lokasi bernama Situ Lembang. Situ alias telaga yang posisinya berada dalam lingkungan Gunung Burangrang (sebelah barat Tangkubanparahu) ini, menyimpan misteri dasar kaldera Gunung Sunda.

Pada 105.000 tahun lampau, Gunung Sunda meletus. Material letusannya yang berlimpah diduga telah menyumbat aliran Sungai Citarum purba. Peristiwa inilah yang diduga menyebabkan dataran tinggi yang kemudian bernama Bandung, terendam air dan menjadi danau raksasa berjuluk Danau Bandung Purba bernama Situ Hyang. Ihwal danau ini pastinya mengingatkan kita pada satu legenda terkenal dari Bandung: Sangkuriang Kesiangan. (foto kanan: foto Kawah Ratu yang diambil tahun 1930-an, kemungkinan dari posisi sama dengan foto di kiri atas yang diambil pada 2010. Mungkin juga dengan pohon cantigi yang sama?)

Nah, legenda Sangkuriang kesiangan ini uniknya sejalah dengan kronologis ilmiahnya. Dimulai dari meletusnya Gunung Sunda, Terbentuknya Situ Hyang, munculnya anak Gunung Sunda yang bernama Tangkubanparahu, hingga surutnya kembali air Situ Hyang—dan kini menjadi dataran tinggi yang dihuni ratusan juta manusia (sejarah Tangkubanparahu dan kesesuaian dengan legenda Sangkuriang bisa dibaca pada buku Wisata Bumi Cekungan Bandung).

Tangkubanparahu adalah gunung api aktif. Gunung ini bisa meletus kapan saja. Meski sekarang dalam fase "tidur", aktivitas gempa vulkanis dalam skala kecil (hanya tercatat seismograf) masih seringkali terjadi. Bahkan pada tahun 2001, kawasan wisata di sekitar gunung ini pernah ditutup karena terjadi peningkatan aktivitas vulkanis.
***

ADA yang sedikit berbeda saat rombongan memasuki gerbang tiketing Wanawisata Gunung Tangkubanparahu: para petugasnya berseragam batik dan tampak seolah-olah lebih profesional. Tapi, profesionalisme ternyata tak selalu identik dengan kabar baik, apalagi di Indonesia. Rupa-rupanya, pengelolaan Wanawisata Tangkubanparahu kini diambil alih oleh swasta dari semula oleh Perhutani (satu badan usaha milik negara).

Di negeri ini, istilah “swasta” biasanya identik dengan pengelolaan yang lebih baik ketimbang “plat merah”. Tapi anehnya untuk kasus Tangkubanparahu, yang muncul justru rasa KHAWATIR!! Pasalnya, institusi swasta —apalagi lokal— biasanya bukan suatu entitas yang mewakili idealisme, melainkan lebih ke mesin pembiak uang. Untuk pengelolaan aset properti, bolehlah mereka dikenal lebih baik dibanding pemerintah, tapi mengelola alam? Dengan telah dikantonginya hak kelola, apalagi diamini Kementrian Kehutanan, mereka bisa saja berbuat apa saja agar selama kontrak mengelola Tangkubanparahu dipegang (katanya 30 tahun, ajegileeeee!!!), laba bisa dikeruk. (foto kiri: diduga mirip MS.Kaban. WANTED!!!)

Gilanya, menurut kabar yang santer beredar di berbagai media termasuk facebook, hak kontrak ini dipegang oleh kerabat mantan menteri kehutanan era Presiden Megawati, M.S. Kaban, di bawah bendera PT GRPP. Yaah… siapa yang berpikir bahwa yang namanya menteri kehutanan bakal berada di posisi sebagai pelindung hutan. Bisa saja justru posisi ini adalah untuk sebesar-besarnya mengeruk keuntungan dari hamparan hutan yang ada di seluruh negeri, dan sialnya kebanyakan keuntungan itu masuk kantong pribadi. Biasa lah, mental mengkambinghitamkan target “Pendapatan Asli Daerah”, khas pejabat-pejabat Indonesia hingga papan paling bawah sejak era otonomi daerah. *gggrrhh.....!!! Ehm, kembali ke laptop!


Volcanotrek/Volcanowalk
Dalam ruang lingkup Cekungan Bandung, ada beberapa alternatif volkanotrek alias wisata kaldera/kawah gunung api. Selain Tangkubanparahu, volcanotrek bisa juga dilakukan di kawasan Ciwidey dengan Gunung Patuha-nya. Di sana misalnya selain ada Kawah Putih, juga ada kawah Cibuni, atau Situ Patenggang yang merupakan bekas kawah gunung api juga. Tetangga Tangkubanparahu, yakni Gunung Burangrang, juga punya kawah, namanya Situ Lembang., meskipun danau yang terbentuknya bersifat semi alami (sengaja dibendung). Kawasan ini selain menjadi ajang berkemah anak-anak muda, juga biasa dijadikan tempat tentara berlatih. Tak heran untuk ke sana, kadang kita harus meminta izin pihak TNI. Namun memang, Tangkubanparahu adalah lokasi yang paling mudah dan paling dekat dijangkau dari Bandung. Selain itu, lokasi kawahnya berada di satu kawasan sehingga bisa disusuri tanpa harus naik turun kendaraan. Namun dari 12 kawah yang ada di sana, hanya tiga yang memiliki jalur trek yang cukup representatif. Ketiga kawah ini adalah Kawah Ratu, Upas, dan Domas.

Kawah Ratu
Behubung kendaraan berbadan besar tak boleh naik ke pelataran dekat kawah, maka kami meneruskan perjalanan dengan naik “odong-odong”. Bus akan menanti kami di sebuah resort di Jalan Raya Subang-Lembang. Odong-odong menurunkan kami di plaza Kawah Ratu yang hiruk pikuk oleh pengunjung. Padahal pada satu dasawarsa ke belakang, hari Sabtu biasanya tak seramai ini.

Entah kenapa belakangan Tangkubanparahu kian menjadi primadona tujuan wisata (tak heran jika satu perusahaan swasta berminat sekali mengelola kawasan ini meski sudah tidak diizinkan Gubernur Jawa Barat sekali pun). Di sana-sini seringkali terdengar aksen-aksen melayu. Belakangan ini, Bandung dan sekitarnya memang menjadi destinasi wisata orang-orang Malaysia, terutama setelah kian murahnya tiket pesawat terbang dari negeri tersebut ke Indonesia, terlebih satu maskapai penerbangan sudah melayani penerbangan lansgung dari Malaysia ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Tak sedikit juga wisatawan yang terdengar ramai berbahasa Cina. Wisatawan bule pun terlihat cukup mewarnai suasana, antara lain (setelah ditanya) dari Jerman dan Belanda.

Sesuai namanya, Kawah Ratu adalah kawah utama juga terbesar di lingkungan Gunung Tangkubanparahu selain dua kawah lainnya yang relatif mudah dicapai yakni Kawah Upas dan Kawah Domas. Selain terbesar, panorama kawah ini juga memang paling memesona. Karena itu, para wisatawan minat umum, umumnya hanya muter-muter di sekitar kawah ini saja.

Walaupun tampak tenang, Kawah Ratu masih aktif. Di beberapa titik di dasar kawah, asap belerang terlihat masih mengepul. Meski demikian, keberadaan dua kawah lainnya yakni Upas dan Domas, sudah pasti akan menjadi pelengkap atraksi alam Gunung Tangkubanparahu yang sayang jika dilewatkan. Namun memang, mengunjungi dua kawah terakhir ini akan memerlukan waktu dan tenaga lebih ekstra.

Kawah Upas
Usai menikmati kawah utama Tangkubanparahu, kami menuju Kawah Upas. Dari plaza Kawah Ratu jaraknya kira-kira satu kilometeran. Syukurlah, para wisatawan umumnya memang tidak berniat mengunjungi Kawah Upas, sehingga suasana di sana tidak hiruk-pikuk seperti di sekitaran Kawah Ratu. Jarak Kawah Upas dari plaza Kawah Ratu memang terlalu jauh bagi wisatawan umum yang biasanya datang ke Bandung untuk mengunjungi destinasi wisata lainnya, terlebih lagi jika membawa anak-anak. Diperlukan waktu seharian untuk mengeksplor kawasan ini. Bahkan kami pun terpaksa tidak mengunjungi sejumlah "situs" yang dituliskan dalam map karena berusaha taat waktu. Selain itu, jalur jalan menuju Kawah Upas cukup terjal. Di beberapa titik, kita bahkan tak bisa hanya mengandalkan kaki, tapi juga cengkeraman tangan. (foto kiri: menuju Kawah Upas)

Namun semua itu akhirnya bisa terbayar dengan suasana alam yang tentunya tak bisa didapat jika berpuas diri di plaza utama Tangkubanparahu saja. Kawah Ratu --kawah utama dan terbesar gunung ini-- tampak lebih ueksotis jika dipandang dari jalur menuju Kawah Upas ini. Karena memang vegetasinya —terutama yang paling dominan adalah pohon cantigi— tumbuh lebih rapat, dipadu dengan pepohonan lainnya, hingga pakis-pakisan. Binatang pun masih berani menampakkan diri di sini, antara lain tupai kecil yang bergerak sangat lincah sampai tak terkejar oleh mata. (foto kanan: bagian kering dari Kawah Upas membentuk lapangan. Hati-hati, terutama untuk anak-anak. Banyak gas solfatara di sini)

Plaza Kawah Upas adalah surga narsisme. Begitu sampai di sini, tiada lain yang dilakukan peserta adalah berfoto-foto: mulai pose loncat rame-rame, loncat sendiri (untung gak ada yang berniat loncat ke kawah), termasuk foto tradisi JAJAL GEOTREK dengan semua peserta.

Kawah Upas adalah kawah yang relatif landai. Meski tampak tidak aktif, namun justru di sini banyak bahaya gas solfatara. Kata “upas” sendiri memiliki arti “racun”. Karena itu, untuk menghindari hal-hal buruk, peserta dilarang turun ke bawah. Meskipun sebenarnya pelataran kering di bawah sana sangat menggoda untuk didatangi, demi sekedar menyusun bebatuan menjadi sebentuk kata yang menunjukkan bahwa "kami juga sudah pernah ke sini".

Kembali ke plaza Kawah Ratu, beberapa peserta yang berbobot, termasuk penulis, mulai kepayahan. Jalur kembali yang menanjak, otomatis lebih menyulitkan "gerombolat si berat".

Kawah Domas
Apakah kita akan kembali ke atas? Pertanyaan ini boleh jadi akan terlontar dari siapa saja yang pernah TURUN ke Kawah Domas dari arah Kawah Ratu. Bagaimana tidak, jalur jalan tanah menuju Kawah Domas lebar-lebar namun jarak antar tangganya curam-curam bener dan seperti tak juga berujung. Kalau turun saja repot begini, apalagi kalo harus balik lagi.

Setelah menempuh curamnya trek menuju Kawah Domas sepanjang kira-kira 3 km (padahal katanya hanya 1,2 km. Makleumlah dalam kondisi kepayahan rasanya jauuuh sekali, hehe...), kami semua beristirahat dulu di sebuah “balkon” yang berada tepat di atas Kawah Domas, di dekat sebuah warung. Sebagian peserta menyempatkan memesan minuman tradisional masyarakat Jawa Barat, bandrek. Di sini, muncul wacana-wacana sinisme para peserta Jajal Geotrek terhadap PT GRPP. Salah satu pemicunya adalah sebuah plang peringatan yang ditulis dengan bahasa entah dari planet mana. Kami pun kian khawatir jika harus menyerahkan pengelolaan Tangkubanparahu kepada yang menulis plang peringatan saja kagak becus. (foto kanan: plang "lieur")

Kawah Domas adalah atraksi berikutnya. Meski sebagian peserta memilih melamun di atas bebatuan seperti iguana sedang berjemur (padahal karena masih syok setelah melewati trek curam ke Kawah Domas), namun sebagian besar tak melewatkan kesempatan untuk merendam kaki di kolam-kolam berair panas berwarna pucat keabuan karena bercampur lumpur vulkanis. Yang lainnya sibuk merebus telur di kolam sumber utama fumarola di Kawah Domas yang bergolak, panas!!! Narsisdotcom mah sudah pasti.(foto kiri: merebus telur di lubang fumarola)

Pada waktu-waktu dengan pengunjung lebih sedikit, biasanya banyak wisatawan baik lokal maupun asing (terutama asal negeri jiran) yang menyempatkan melulur betis dan kakinya menggunakan lumpur dari kolam-kolam air panas tersebut, dengan dipandu pramuwisata-pramuwisata "lokal". Pada satu kesempatan kunjungan lain ke Kawah Domas, penulis rada prihatin (bari hayang seuri) karena para pramuwisata native ini ternyata asal ngomong saja. Misalnya mereka mengatakan kepada wisatawan-wisatawan asing ini bahwa batu mulia yang dijual oleh sejumlah pengasong, dan terkadang oleh para pramuwisata itu sendiri, berasal dari Tangkubanparahu. Sejak kapan di Tangkubanparahu ditemukan batu mulia?

Jungle Walk
Hutan antara Kawah Domas dengan perkebunan teh Hegarmanah sebenarnya sangat menarik untuk lebih diakrabi. Sayang, kami diuber-uber waktu. Meski begitu, penulis sempat menikmati senyapnya suasana di tengah hutan itu. Hanya suara cericit binatang, harum tetumbuhan, dan deru angin menghempas pepohonan dan semak belukar, yang terdengar. WOW!!! Kemewahan yang kadang tidak bisa dinikmati barang setahun sekali pun.

Jenis hutan yang panjangnya sekitar satu kilometeran ini adalah hutan heterogen. Tanaman yang nama tradisionalnya bisa diidentifikasi antara lain pakis perdu dan pakis raja, pohon lemo yang harumnya herbalis sekali, dan pada satu segmen ada yang dipenuhi pandan raksasa berduri. Sedangkan vegetasi yang jenisnya tidak dikenal oleh penulis, lebih banyak lagi. Yang pasti di hutan yg vegetasinya relatif masih asli ini tentu saja tidak ada pohon pinus seperti yang bahkan tumbuh di tebing Kawah Upas.

Dengan anehnya, ternyata para peserta menanti turunnya hujan. Mungkin karena “iklan” Jajal Geotrek III (yang saya tulis juga) menyebutkan bahwa hujan deras di tengah hutan saat survei Januari lalu, ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan. Memang, ketika itu pohon-pohon yang tumbuh rapat saling-silang, seolah-olah telah menjadi pelindung alami dari tetesan hujan dan hempasan angin. Namun penulis pribadi bersyukur hujan tak turun, terlebih mengingat “gaya” DR Gunawan seperti yang telah diceritakan di atas. (foto kanan: menerobos rimbunan pohon pakis yang membentuk terowongan)

Tea Walk

Sehabis menempuh rute Kawah Upas, Kawah Domas lalu jungle walk, tibalah segmen tea walk di perkebunan teh Hegarmanah. Penulis membayangkan, sebelum menjadi hamparan kebun teh, ratusan tahun lalu sebelum kedatangan Belanda, tentulah areal kebun teh ini masih hutan seperti yang baru kami lalui itu. Mungkin saat itu di kawasan ini masih terdapat banyak macan kumbang.

Perkebunan Teh Hegarmanah: saat kunjungan pertama, masih hijau lucu.
Saat kunjungan kedua, gosong! Sepertinya sedang proses peremajaan.

Cuaca berkabut dan dingin di perkebunan teh, cukup membantu penyimpanan cadangan tenaga. Sebenarnya, jarak antara ujung hutan hingga ujung perkebunan teh, tidak terlalu jauh. Namun energi para peserta, terutama pada kaki, tampaknya sudah cukup terkuras saat menuruni jalur menuju Kawah Domas. Bahkan di pertengahan jalur tea walk mulai ada peserta yang mengalami lecet-lecet pada kakinya.Jajal Geotrek III diakhiri dengan rehat kopi di sebuah resort di sisi Jalan Raya Subang-Ciater. Terlalu mewah untuk tiket Rp 120.000 per orang sebenarnya, hehehe….

Akhirnya, menjelang pukul 17.00, setelah semua peserta masuk ke dalam bus, hujan turun dengan derasnya. Keadaan lalu lintas Bandung Utara di akhir pekan ini ternyata sangat lancar. Bahkan Jalan Setiabudi, tidak semacet yang diduga. Namun kemacetan justru menghadang parah di Jalan Siliwangi, hanya tinggal sekitar satu kilometeran lagi untuk sampai di tujuan akhir kami, gerbang utama ITB di Jalan Ganesha. Untung saja hujan sudah berhenti, sehingga semua bisa pulang dengan bahagia.(*)

Bandung Voruit "Menembus" Kawah Ratu
Berkat jasa satu perkumpulan orang-orang Belanda pinter, kaya, dan baik hati bernama BANDUNG VOORUIT, Kawah Ratu G.Tangkubanparah bisa ditempuh oleh banyak orang dengan lebih mudah. Perkumpulan yang dibentuk dengan semangat Politik Etis (politik balas budi terhadap negeri jajahannya) ini lah yang membangun jalan aspal pada 1920-an, sehingga Tangkubanparahu bisa dilalui kendaraan roda empat hingga ke bibir kawah. (ruri andayani)



TammaT


Tuesday, June 29, 2010

BERBURU HALIMUN MALABAR

November 2009, musim hujan sedang basah-basahnya. Tapi, tak ada alasan untuk menunda petualangan, ke gunung sekali pun. Karena di sana justru telah menunggu atraksi ekstra yang sudah tidak bisa diperoleh di perkotaan, bahkan untuk ukuran kota pergunungan seperti Bandung pun: HALIMUN!

MUSIM hujan, tidak menjadi halangan bagi sekitar 55 peserta “Jajal Geotrek II” untuk maju terus pantang mundur berkumpul di teras Taman Ganesa pada 28 November lalu. Geotrek yang dijajal untuk kedua kalinya ini mengambil rute Geotrek ke-9, buku Wisata Bumi Cekungan Bandung: “Menguak Kabut Kendan dan Malabar” (minus Kendan).

Meski demikian, strategi ditetapkan agar air semakin tidak menjadi halangan pada setiap langkah kami saat menapaki tanah-tanah basah pergunungan. Maka disarankanlah agar setiap peserta siap dengan jas hujan di ransel masing-masing (yang gak mau di ransel masing-masing tapi di ransel pacarnya juga boleh :D). Urutan lokasi yang dituju juga diatur agar kalau hujan mengguyur pun bukan saat berada di trek sulit.

Maka, lokasi pertama yang didatangi adalah kawasan wanawisata Gunung Puntang. Tidak lucu memang jika harus memaksakan diri menyusuri Ci Geureuh —sungai yang mengalir di kaki G.Puntang— sambil berhujan-hujanan. Padahal salah satu yang dijanjikan kepada peserta di awal, dan merupakan unsur yang paling menyedot minat, adalah bermain di jernihnya air sungai tersebut.

Menyusuri Ci Geureuh cukup membuat gentar, (setidaknya buat penulis) sebab sungainya berkontur dengan aliran cukup deras menghanyutkan, dan batu-batu tempat pijakan yang terkadang licin. Tapi ada rasa penasaran jika tidak sampai ikut bercebur-cebur-ria, mengakrabi sungai model begini yang sudah nggak bisa ditemukan lagi di dekat rumah kita. (kanan: bercebur-cebur-ria di Ci Geureuh)

Sebenarnya lebih asyik jika membiarkan saja tubuh kita basah semua, sehingga hambatan seperti takut terpeleset, tidak perlu ada. Namun, peserta umumnya tidak ingin pakaiannya basah (apalagi ini baru seperempat dari total perjalanan), sehingga licinnya batu-batu yang berserakan di Ci Geureuh mau tak mau menjadi tantangan tersendiri. Padahal, “mitigasi” juga sudah ditetapkan, yakni selain disarankan membawa jas hujan, plastik pelindung kamera atau gadget lainnya, juga pakaian ganti dan sandal jepit.

Mengamati Ci Geureuh, hati ini terpesona. Jika lingkungan masih terpelihara, air bening yang menyegarkan tak habis-habisnya digelontorkan oleh alam.

Sejarah Alam dan Sejarah Perjuangan di G.Puntang

Mengapa nama gunung ini disebut “Puntang”? G.Puntang adalah bagian dari rangkaian komplek gunung yang “menyusun” Gunung Malabar. Gunung ini dalam bahasa Sunda disebut memuntang alias menggelayuti gunung induknya yakni G.Malabar, maka jadilah namanya Gunung Puntang. Yang menjadikan kawasan ini menarik, selain pemandangannya masih indah alami —khas alam pegunungan-- juga terdapatnya situs peninggalan dari masa kolonial, yakni berupa reruntuhan gedung Radio Malabar berikut komplek perumahan para pegawainya.

Seperti dikisahkan dalam buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, geotrek ke-9, (yang dicuplik dari buku Semerbak Bunga di Bandung Raya-- Haryoto Kunto) seruan “Halo Bandung, Hier Den Haag” menggema hingga daratan Eropa dari stasiun radio ini. Sehingga sempat juga beredar kabar bahwa lagu "Halo-halo Bandung" (yang penciptanya masih belum jelas) terinspirasi dari seruan ini. Belanda memang tidak pernah main-main dalam memilih dan menentukan suatu lokasi untuk keperluannya., pdahal sekarang pun lokasi ini masih cukup belantara. Bisa dibayangkan, seperti apa kondisi lokasi ini waktu itu, di masa awal abad ke-20. (Kiri atas: Bangunan Radio Malabar dengan kolam di depannya saat masih utuh di tahun 1920-an. Kanan bawah: Lokasi yang sama di tahun 2010)

Dari berbagai data dan gambar yang cukup mudah dicari dengan meng-googling di internet, dapat diketahui bahwa pada masa itu, sekitar akhir 1920-an, di lokasi ini terdapat bangunan yang besar lagi megah, yang dilengkapi sejumlah perumahan untuk para pegawainya. Bahkan menurut catatan-catatan yang ada, di gedung ini juga terdapat bioskop dan boleh jadi semacam ballroom tempat bule-bule kolonialis berdansa-dansi.

Seusai menyusuri Ci Geureuh, kami pun menyempatkan mengunjungi bekas-bekas reruntuhan Radio Malabar ini. Setelah berjalan sekitar setengah kilometer dengan menyusuri jalan setapak yang cukup menanjak, sampailah kami di suatu pelataran yang cukup luas. Kira-kira hampir dua kali lapangan sepak bola jika dihitung dengan luas sisa bangunan dan kolam. (peserta Jajal Geotrek II memasuki pelataran depan sisa-sisa reruntuhan Radio Malabar. Tampak dinding kolam yang masih relatif utuh)

Bangunan Radio Malabar yang besar dan megah itu, kini tinggal tersisa sebaris dindingnya saja. Itu pun tertutup perdu dan ilalang. Sementara dinding kolam yang berbentuk khas zaman kolonial, masih cukup utuh. Hanya di beberapa bagiannya saja yang rompal. Kolam ini dikenal dengan nama Kolam Cinta karena bentuknya seperti jantung (hati).

Tak ada sumber yang bisa menjelaskan apa penyebab hancurnya bangunan Radio Malabar. Ada yang menyatakan bahwa kawasan ini dibom oleh Jepang saat mereka merebut Indonesia dari tangan Belanda. Namun beberapa membantahnya karena Jepang dianggap tidak mungkin merusak fasilitas-fasilitas penting. Dari diskusi di facebook antar peserta Jajal Geotrek seusai mengikuti Jajal Geotrek II, berkembang analisis bahwa ada kemungkinan justru pejuang Indonesia sendiri yang menyebabkan bangunan ini hancur, tepatnya saat peristiwa Bandung Lautan Api pada 1942. (Aktivitas meneer-meneer dan noni-noni kolonialis di gedung Radio Malabar yang katanya di dalamnya juga terdapat bioskop. Apa yang mereka tonton? Charlie Chaplin kali yee --gambar kanan)

Seperti kita ketahui, saat itu ada perintah dari petinggi militer/pejuang RI di Bandung agar rumah-rumah ditinggalkan bahkan dibakar/dibom. Begitu pulalah yang mungkin terjadi pada bangunan ini. Jika sekarang yang tersisa benar-benar tinggal puing-puing, ada pula yang berteori bahwa kemungkinan sisa-sisa bangunan ini “dijarah” oleh penduduk setempat.

Saat ini, wanawisata Gunung Puntang banyak dimanfaatkan sebagai lokasi untuk berkemah baik oleh kelompok kecil remaja maupun lembaga seperti misalnya sebagai lokasi pendidikan dasar dan outbond. Dari kaskus sejumlah orang yang pernah berkemah di dekat situs Radio Malabar, tak jarang—katanya— mereka diganggu fenomena “dunia lain”. (satu dari beberap sisa-sisa fondasi perumahan para pegawai Radio Malabar --gambar kiri)

Di posisi lebih bawah, yakni yang dekat dengan tempat parkir mobil/bus, terdapat sejumlah rumah yang tinggal tersisa fondasi dan sebagian dinding batunya saja. Pada dinding-dindingnya, pihak pengelola sengaja menempelkan plang-plang bertuliskan nama-nama mantan penghuni masing-masing rumah tersebut, antara lain rumah bekas dihuni “Mr Bijkman” dan “Mr Djukanda”. Mungkin nasib bangunan-bangunan ini juga tak ada bedanya dengan Radio Malabar. (Kolam cinta, karena bentuknya seperti jantung-hati. Lihat bagian depan kolam ini pada foto klasik di atas --gbr kanan)


Vila Bosscha dan Rumah Jerman

Gunung Puntang kami tinggalkan untuk kemudian menuju perkebunan teh Malabar-Pangalengan. Sejak terjadinya gempa bumi pada September 2009, tanda-tanda bekas terjadinya gempa masih sangat kentara. Banyak rumah yang masih belum diperbaiki, bahkan di depannya masih dipasangi tenda-tenda biru. Pelataran untuk lokasi pengungsian resmi pun masih banyak dihuni korban. (Salah satu bagian dari Vila Bosscha yang mengalami kerusakan cukup prah akibat gempa --kiri)

Bus kami beringsut menuju –apa lagi kalau bukan-- Vila Bosscha. Bukan berwisata ke Pangalengan kalau tidak mengunjungi rumah bekas kediaman pendiri peneropongan bintang Bosscha ini. Hujan pun mulai turun. Di tengah hawa dingin dan perut yang sudah nge-jazz (maklum, penulis lebih demen jazz daripada keroncong), naluri kami membawa ke koridor tempat makanan disajikan. Soto Bandung, perkedel kentang, ayam goreng, telur rebus, bacem tempe, dan kopi panas, menanti diserbu. Sajian yang terlalu mewah untuk tiket jalan-jalan yang cuma Rp 60.000 per orang (what a “creative” and generous committee, ckckck!!!). (makam Bosscha di Pangalengan. Bagian bawah pilar-pilarnya tampak tercabik akibat gempa)

Seusai mengisi perut, peserta dibebaskan untuk melihat-lihat Vila Bosscha yang lumayan mengalami kerusakan parah saat terjadi gempa bumi pada bulan Ramadan lalu (September 2009). Tampaknya, Vila Bosscha sudah mulai diperbaiki. Halimun pun mulai turun.

Nasib berbeda terjadi pada Rumah Jerman. Sungguh penonton kecewa (huuuuu!!) saat menjejakan kaki di sana, ternyata rumah berarsitektur seperti rumah-rumah pertanian di negeri Jerman ini (makanya dinamakan Rumah Jerman) sudah rata dengan tanah. Cukul (tanpa arwana) nama lokasi tempat berdirinya—atau runtuhnya—rumah peninggalan masa kolonial ini. Lokasinya bisa ditempuh ke jalur yang menuju Situ Cileunca. Dari arah Bandung, jika menuju Vila Bosscha belok kiri, maka untuk menuju Cukul belok kanan. Kira-kira tiga kilometeran dari sini.

Menurut warga yang sempat kami temui di sana, Rumah Jerman hancur gara-gara gempa September lalu. Namun peserta yang kecewa tidak percaya. Sebab saat masih berada di Vila Bosscha, sejumlah pihak tidak menyarankan kami untuk menuju ke sana dengan alasan jalannya rusak. Padahal ketika akhirnya kami “nekat” ke sana, ternyata jalanan mulus melebihi jalanan di Bandung. Mencurigakan memang. (Rumah Jerman yang sudah rata --gbr kiri atas. Rumah Jermah saat masih kokoh berdiri --gbr kanan)

Ada pula desa-desus bahwa kawasan perkebunan teh yang ada di Cukul sudah dikontrak oleh perusahan produsen minuman teh instan/kemas ternama, sehingga muncul dugaan rumah ini sengaja diruntuhkan karena keperluan bisnis. “Mungkin memang rusak, tapi kayanya rusaknya tidak seberapa. Vila Bossca aja bisa diselamatkan kok,” kata salah seorang peserta Jajal Geotrek yang kecewa. (Lepas siang hari, halimun mulai menyelimuti halaman samping belakang Vila Bosscha --gambar kiri)

Meski gerimis turun dengan rapatnya dan halimun tebal menyelimuti, kami tak surut langkah untuk tetap “mengapresiasi” legacy of ashes ini, daaaan……….. mengapresiasi suasana yang romantis berkabut ini dengan berfoto-fotoria…..teteeeeeup narseees!! (ditulis maraton antara Desember 2009 - Juni 2010 --ruri andayani)

Konfigurasi huruf yang sama yang dipakai saat Jajal Geotrek I.
Hasil gunting-menggunting semalam suntuk ini harus berakhir di Jajal Geotrek IV :D
Alasannya? Ikuti terus serial Jajal Geotrek sampai yg ke-4.

Thursday, November 19, 2009

GUNUNG PADANG, NASI LIWETMU NENDANG

(lanjutan dari tulisan: Kereta Dua Gerbong yang Humoris --tp://cekunganbandung.blogspot.com/2009/09/kereta-dua-gerbong-yang-humoris.html )

DARI jalur utama Bandung Cianjur (Warungkondang), bus berbelok di suatu daerah/kecamatan yang seingat penulis bernama Gekbrong (halah!). Dari pangkal jalan ini, lokasi Situs Gunung Padang ternyata masih cukup jauh. Sebelum sampai di sana, kami menyempatkan dulu mengunjungi Terowongan Lampegan. Pada jidat terowongan ini, tertulis 1879-1882.

Sampai tahun 2006, terowongan ini sebenarnya masih selalu dilalui kereta oranye kami itu (baca artikel: Kereta Dua Gerbong yang Humoris). Namun karena di jalur antara Cipeuyeum dan Lampegan sempat mengalami longsor dan sampai saat kami datang perbaikannya masih belum tuntas, maka terowongan ini sekarang hanya dimanfaatkan warga setempat sebagai akses memotong jalan.

Anehnya, meski sudah sejak 2006 sang duplikat Si Gombar -- kereta api oranye kami itu-- tak lewat terowongan ini lagi, warga setempat masih seringkali mendengar suara “Si Gombar” menjerit-jerit, terlebih di tengah malam buta. Ah, “Si Gombar” tak rela dirinya digantikan sang duplikat.

Di tengah kemarau yang masih berat di awal Agustus 2009, kami pun beringsut dari pelataran Stasiun Lampegan menuju bus untuk segera menuju tujuan utama: Situs Gunung Padang. Saya menunggu kejutan berikutnya seperti yang dijanjikan penyelenggara tur ini: PERKEBUNAN TEH!!

Berhubung pada plang Stasiun Lampegan tertulis bahwa ketinggian stasiun itu hanya 600-an meter di atas permukaan laut, penulis berpikir lokasi kebun teh pasti masih cukup jauh. Tapi ternyata hanya beberapa menit kemudian, panorama khas kebun teh sudah terpampang. “Suejuuuk!!!” Ya iya laaah…masih di dalam bus ber-AC.

Begitu sampai si suatu persimpangan dengan satu jalan ke arah bawah, rombongan diturunkan. "Selamat Datang di Perkebunan Teh Panyairan". Kami pun siap-siap menarik napas panjang untuk menghirup udara sejuk. Tapi...… Ah…penonton (agak) kecewa! Ternyata udara di luar tak sesejuk di dalam bus. Kemarau tahun ini memang cukup kejam!! Atau mungkin posisi perkebunan teh Panyairan memang tidak terlalu tinggi. Saya menduga, ketinggiannya belum sampai 1000 meter (??).

Walau bagaimana, berjalan-jalan di antara kebun teh selalu memberi sensasi tersendiri. Meski tiba-tiba.... rute jalan mulai tak bersahabat: curam, berdebu, dan licin! Teganya! Padahal banyak peserta yang sudah berusia di atas 60 tahun. Pihak penyelenggara beralasan, "kalau gak ada acara teawalk-nya, gak seru". Iya juga sih! Untungnya, pemandangan ke arah bawah, ke suatu desa –mungkin Desa Gunung Padang— cukup menyejukan mata. Suatu desa kecil yang seolah-olah berada di antara kehijauan alam.(foto kanan: menatap bukit Gunung Padang tepat di tengah)

Lepas pukul 12 siang, sampailah kami di kaki Gunung Padang yang lebih tepat disebut bukit. Dalam keadaan letih, lelah, begah, nyorocod tu’ur (lutut bergeletar), kami disambut “nasi liwet buffet”. Masakan orang Gunung Padang enak juga --nasi liwetnya terasa nendang, senendang batu-batu andesit Gunung Padang kalau diayunkan ke pantat anda (ahaha, pis ah pren, tapi lauk-pauknya jujur, enak kok).

Setelah kenyang, secangkir (tepatnya se-gelas "belimbing") kopi susu instan panas seharga Rp 2.000, sanggup melebarkan lagi neuron-neuron di batok kepala yang sempat mengkeret akibat digempur cuaca panas. Otak nge-hang, menjadi fresh kembali. Wahai “sejuta tangga” (cuma 300-an ding), kami datang!!

Di tangga terakhir menuju puncak Gunung Padang --yang juga nyaris menyisakan napas terakhir (hehe)-- fenomena uniknya susunan batu-batu peninggalan zaman Megalitik, sanggup menepis godaan untuk duduk menggelesot pada mulusnya permukaan batu andesit terakhir yang menjadi bahan penyusun tangga. Bujangga Manik, kami telah berada di lokasi tempatmu berharap bisa bertemu dengan Tuhanmu (lihat kisah singkat perjalanan Bujangga Manik mengarungi P.Jawa di halaman 16 buku Wisata Bumi Cekungan Bandung).

Menurut Yuda Buntar, salah seorang pengelola situs purbakala Gunung Padang, di masa kakek nenek-nya, pada malam-malam tertentu di atas bukit Gunung Padang, sering terdengar suara-suara musikal, dan tempat itu menjadi terang benderang. "Kami lalu menamai bukit ini dengan Gunung Padang (gunung terang)," ujarnya. (lihat: http://www.beritadaerah.com/artikel.php?pg=artikel_jawa&id=12211&sub=Artikel&page=16)

Sayang, kemarau Agustus berhasil menepis jauh-jauh datangnya halimun, yang sebenarnya bisa lebih menguarkan aura mistikal Gunung Padang. Kami mungkin harus menginap di atas jika ingin bertemu kabut Gunung Padang, karena menjelang sore --saat kami sudah turun-- hujan pun turun juga, meretas debu-debu halus tanah perkebunan teh Panyairan. Saat bus beranjak meninggalkan Panyairan, kabut pun turun mengantar kepergian kami untuk kemudian dihadang kemacetan parah sejak Citatah-Padalarang. Ramainya Jalan Pasteur di malam minggu, menyambut kepulangan penulis kembali di Bandung.

Jejak Bujangga Manik di G.Padang
Tawaran menikah dengan putri yang cantik pun ditolaknya. Sang Pangeran memilih memenangkan rasa ingin tahunya tentang tanah air tempatnya tinggal dan dilahirkan. Maka, dia pun memutuskan untuk melakukan perjalanan kedua, setelah perjalanan pertamanya yang kurang memuaskannya.

Bujangga Manik, adalah seorang tokoh nyata dari abad ke-17. Semangatnya untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bumi tepatnya berpijak ini, telah melampaui insting berpikir yang ada di kepala-kepala manusia kontemporer.
Apalagi pangeran muda dari Kerajaan Pakuan, Bogor, ini pun bisa menulis. Dengan segala keterbatasan pada masanya, sang pangeran menjadikan daun-daun lontar sebagai media untuk mencatatkan kisah perjalanannya mengarungi Pulau Jawa, dengan berjalan kaki.

Dalam salah satu lontarnya yang kini tersimpan aman di Museum Bodleian, Inggris (syukurlah), Bujangga Manik berujar, dia sudah bisa “tjarek djawa” (berbicara dalam bahasa Jawa). Beliau rupanya telah berhasil mencapai tanah orang-orang yang tinggal di timur kerajaannya.

Di akhir perjalanan keduanya ini, Bujangga Manik menemukan kabuyutan. Tertulis di lontarnya, kabuyutan ini berada di hulu Ci Sokan, Cianjur Selatan. Dia menggambarkan tempat ini sebagai tempat agung yang berundak-undak. Adakah ini Situs Gunung Padang di Lampegan, Campaka, Cianjur? Sang pangeran kemudian membenahi kabuyutan tersebut dan tinggal di sana... Persiapan perjalanan terakhirnya menuju Tuhannya (Pendahuluan buku "Wisata Bumi Cekungan Bandung"). ---ruri andayani

Rombongan Tur Situs Megalitik Gunung Padang, Sabtu/15 Agustus 2009

Wednesday, September 23, 2009

KERETA DUA GERBONG YANG HUMORIS

Pagi itu kawasan Stasiun Ciroyom mulai menggeliat. Para pengais rezeki dengan bermodalkan selembar kain untuk alas dagangannya, sudah menduduki posisi masing-masing yang mereka anggap hoki, mungkin. Dagangan pun digelar. Mulai kaos kaki, mainan anak, hingga sepatu/sandal. Suasana ini tampaknya tidak banyak berubah sejak 1970-an.

Serangkaian kereta api berwarna oranye, tampak menunggu dengan sabar agar gerbong-gerbongnya terisi muatan. Hingga waktu yang ditetapkan sebagai jadwal keberangkatan (pukul 07.45) tiba, si kereta masih betah nongkrong di stasiun ini. Gerbong-gerbong dengan kursi berhadap-hadapan seperti di angkot ini, memang masih belum terisi penuh. Sepertinya tak ada beban bagi dia untuk berangkat tepat waktu.

Kereta ini tak ada bedanya dengan kereta api ekonomi pada umumnya: dekil, dhuafa, proletar, dan sejenisnya. Hal ini berbanding sejajar dengan tarif tiketnya yang cuma Rp 1.500, hingga Stasiun Cianjur (boooo!!!). Meski begitu, penampilan penumpangnya tidak se-dhuafa yang dibayangkan. Mereka kebetulan saja hanya rakyat yang rezekinya tidak sebaik mereka yang memilih naik travel, bus AC, atau kendaraan sendiri.

Baru ketika waktu sudah mau beranjak ke pukul 09.00, ketika mulai tampak ada penumpang yang berdiri --menandakan kursi-kursi sudah terisi-- mulailah sang lokomotif terbangun dari kantuknya. “Tuiiit!!…tuiiiit!!” seru si lokomotif. Loh kok, haree geenee suara kereta masih seperti itu, mengingatkan pada kereta-kereka uap abad pencerahan?? Dan, entah disengaja atau tidak, kereta ini lah yang saban harinya menapaktilasi jalur “Si Gombar”, kereta uap yang pada masa awal abad ke-19 juga merayapi jalur yang sama.

Lepas dari Stasiun Ciroyom yang berantakan bagai usus terburai, suasana gerbong masih lapang, seolah-olah tidak ada masalah untuk menjadi rakyat jelata. Sang kepala suku rombongan Tur Megalitik Gunung Padang dari P2PAR ITB yang punya ide '"aneh" ini, masih bisa bergaya laksana guide kereta wisata ke pergunungan Swiss. Dengan corong megafon yang mengacung-acung di tengah penumpang yang terbengong-bengong keheranan, mulailah diterangkan “bab pendahuluan” dari tur ini.

Kira-kira lepas Stasiun Cibeureum, suasana gerbong --setidaknya di gerbong kedua-- mulai krodit (ini serapan dari kata crowded). Penumpang mulai banyak yang tak kebagian tempat duduk. Bau-bauan tujuh rupa mulai menyambar-sambar hidung. Untung masih pagi, jadi belum terlalu menyengat. Yang tak terhindarkan adalah kemunculan para “lokomotif” berbahan bakar bako di dalam gerbong (lokomotif kok naik lokomotif). Kalau yang model begini mah, tak peduli di tempat jelata ataupun tempat elit, klepas-klepus teruuus.

Para biduan amatiran pun mulai cari posisi, berbagi giliran memamerkan suara-suaranya yang lumayan lah daripada lumanyun. Mulai lagu pop sampai dangdut. Dan bagikan sudah ada koordinasi antar masing-masing pencari nafkah, semua mendapat giliran melintasi gerbong secara rapi. Ada tukang tahu bahenol nan menor yang menepuk-nepukan lembaran duitnya ke tahu-tahu dagangannya yang tak kalah bahenol, seraya berteriak “penglaris…penglaris.” Waw, tahu bahenol itu kini beraroma uang kertas dekil nan lecek, vaksinasi alami bagi rakyat jelata.

Tukang-tukang minuman kemasan bermodalkan roda dengan wadah dari ember-ember besar bekas cat tembok, bergiliran melintas. Ada barang 10 kali bolak-balik selama jarak antara Stasiun Ciroyom dengan tujuan akhir rombongan, Stasiun Cipeuyeum. “Eyooooow!!!” teriak nyaring salah seorang di antaranya, berusaha menarik perhatian, sekaligus menyingkap kepadatan penumpang. Wajah si pemilik hak cipta teriakan ini begitu percaya diri, bagaikan melintas di wilayah kekuasaan. Tak ada senyuman ramah apalagi genit demi merayu penumpang. Toh, dagangannya teteeep laris.

Lepas persimpangan dengan jalur rel buat kereta-kereta gagah yang menuju Jakarta, tepatnya di daerah Purwakarta, “Si Gombar” abad 21 ini bisa menghela napas legaaa. Di jalur berikutnya yakni jalur kereta yang menghubungkan Bandung menuju Cianjur ini (dulu sampai Sukabumi), tak ada para kereta ningrat yang harus didahulukan melintas. '"Si Gombar" adalah penguasa di dataran ini.

Maka, tak ubahnya angkot-angkot di Bandung yang kalau mau berhenti atau maju hanya Tuhan yang tahu, begitu pulalah kereta kami tercinta ini. Kalau masinisnya pengen pipis, bisa saja kereta direm mendadak. Pokonya, Merdekaaa!!! (kebetulan saat acara ini digelar, bertepatan dengan dua hari menjelang HUT RI). Inilah jalur wisata “Wild Wild West Ciroyom-Gunung Padang” (pinjem istilah Budi Brahmantyo, sang guide tur).
Setahu saya, di jalur “bebas merdeka” ini, ada sebuah desa atau kampung bernama Tungturunan. Selidik punya selidik, di kampung ini banyak penumpang yang turun sementara kereta sengaja digenjot pelan. Tujuannya, memberi kesempatan kepada para penumpang untuk meloncat turun, baik penumpang yang berada di dalam, maupun dari atap gerbong jika di masa-masa padat penumpang. Hohoho…I love you full, Indonesia!!

Di tengah-tengah penumpang yang padat merapat akrab, kepala suku kami tidak menyerah. Pasalnya, atraksi sejarah geologi Bandung, antara lain mengenai Ci Meta, sungai yang erat kaitannya dengan peristiwa bobolnya Danau Bandung Purba, ada di jalur ini. Maka, meski kini yang terlihat dari jauh tinggal corong megafon-nya saja, namun suaranya bisa didengar ke seluruh penjuru gerbong kedua. "Ngamen gaya baru neeh," begitu mungkin pikir para penumpang "asli". Untung ternyata tak ada kencleng yang beredar.
Sekitar pukul 10, kereta kami tiba di Stasiun Cipeuyeum. Jujur, legaaa!!! Karena bisa keluar dari kungkungan asap rokok yang tak mau peduli pada para pembencinya. Selamat jalan kereta kami yang lucu, semoga tidak lelah melayani masyarakat menggapai cita-citanya di pelosok daerah.

Kedatangan kami disambut bus AC ITB yang masih gress, yang parkir di halaman Stasiun Cipeuyeum. Bus AC yang menjadikan perjalanan senilai Rp 125 ribu ini menjadi lebih layak diperjuangkan, meskipun goodie bag yang dijanjikan, tidak ada…. ------ruri andayani.

(tulisan ini serial dengan "Gunung Padang, Nasi Liwetmu Nendang", cekidot: http://cekunganbandung.blogspot.com/2009/11/gunung-padang-nasi-liwetmu-nendang.html)

Tuesday, July 21, 2009

CEKUNGAN BANDUNG: KEINDAHAN YANG SARAT ANCAMAN

CITRA Cekungan Bandung hasil jepretan Inna Dewiyana salah seorang peserta “Jajal Geotrek I”, yang diambilnya dari puncak Gunung Batu, begitu mengesankan salah seorang teman facebook-nya yang berasal dari Chicago, Amerika Serikat (AS). “I wish, i was with you when you took this picture. It's so beautiful there,” tulis Jennifer Ivaska McMillan, saat mengomentari foto tersebut.



Pagi itu, sekitar pukul 10.00, di tengah kemarau Juli 2009 yang sedang merekah-rekahnya pada hari ke-12, puncak Gunung Batu - Lembang memang sedang menyuguhkan tampilan terbaiknya. Panorama Cekungan Bandung di arah selatan kami --para peserta Jajal Geotrek I-- itu, bak lukisan alam yang menyihir untuk tidak banyak-banyak memalingkan wajah ke arah lain

Satu-satunya pesaing adalah pemandangan ke arah utara, yakni ke penampakan Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu, yang terjelas yang pernah dilihat penulis dalam beberapa kali kunjungan ke puncak Gunung Batu. Namun tak ada drama aktual yang bisa dibayangkan di sana kecuali legenda ala mitologi Yunani, Oedipus: yakni Sangkuriang yang menendang perahu setengah jadi karena cintanya ditolak sang ibu kandung. Sedangkan di bawah sana, di arah selatan, drama kehidupan manusia terkini membentang di hadapan mata: drama keindahan alam ciptaan-Nya, sekaligus keprihatinan ciptaan manusia.

Dari ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut ini, sulit diterima bahwa sehari-harinya --sebagai warga Bandung-- kami hidup dengan ditelikung kabut polusi, kabut yang sarat zat karsinogenik si pencetus kanker. Kami pun berdecak --sampai muncrat-muncrat-- demi melihat panorama pergunungan yang juga menelikung Cekungan Bandung. Di selatan sana, berjajar pergunungan, mulai G.Malabar dan G.Patuha. Menerus ke barat bisa terlihat citra G.Gede-Pangrango (Sukabumi-Bogor). Bahkan ciri strato G.Cikurai yang bagaikan piramid (pada foto di atas, tampak paling kiri), mencuat penuh pesona, mewakili Garut.

Andai berdiri di posisi sebaliknya, misalnya dari ketinggian G.Puntang yang memuntang (menggelayuti) pergunungan Malabar di posisi selatan, tentulah yang tersaji adalah hamparan pemandangan Cekungan Bandung arah utara dengan latar G.Burangrang, G.Tangkubanparahu, G.Bukittunggul, G.Palasari, G.Manglayang, dan boleh jadi G.Tampomas di Sumedang. Komplitlah sudah pesona keindahan Cekungan Bandung. Akan tetapi keindahan ini ternyata, menyimpan ancaman.

"Silent Killer"
Nyata sudah ancaman itu. Dari puncak “monumen” Patahan Lembang ini (bukit batu yang tampak pada kiri foto bawah), kian ke barat kabut polusi tampak kian kecoklatan. Kami menduga-duga --dugaan yang sangat beralasan-- bahwa semakin ke barat Bandung semakin dipadati pabrik. Tentu saja ditambah emisi gas buang kendaraan berbahan bakar fosil, yang jumlahnya semakin menyesakkan dada.

Cekungan Bandung, bekas hamparan air raksasa yang kini menjadi hamparan padatnya perumahan dan manusia, memang fenomena alam yang tiada tara. Namun, mangkuk raksasa ini sebenarnya bagaikan silent killer bagi para penghuninya. Kabut polusi yang menyaput angkasa Bandung, dan dari tahun ke tahun semakin terakumulasi, adalah alasan mengapa suhu Kota Bandung makin memanas. Sebelum Kutub Utara meleleh pun, Bandung telah menjadi contoh sempurna efek rumah kaca. Fenomena yang belakangan ditakuti Al-Gore.

Untuk jangka lebih pendek dari pemanasan global, kabut yang sarat karbonmonoksida ini bisa menjadi pencetus penyakit kanker. Untuk jangka lebih pendek lagi, smog alias smoke dan fog ini dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut. Dan tanpa kita sadari, emisi gas buang kendaraan (terutama lagi dari bahan bakar yang mengandung timah hitam/timbal), telah menghambat perkembangan otak anak-anak usia sekolah dasar. Walhasil, anak-anak yang terlalu sering terpapar emisi gas buang kendaraan, bisa jadi “lemot”.

Ancaman Gempa
Polusi smog adalah ancaman yang sudah bisa dibaca. Namun Bandung memiliki potensi ancaman lain, yang bisa jadi sekali datang langsung merusak dan mematikan banyak manusia. Namun, siapa pun tak bakal mengetahui kapan ancaman ini akan tiba.

Sedari awal tulisan, nama Patahan Lembang telah disebut berulangkali. Dari sini lah ancaman itu mengintip. Adanya Patahan Lembang di dekat Cekungan Bandung, sebenarnya bagaikan keberadaan lempeng Indo-Australia yang bertemu lempeng Eurasia di sepanjang pantai barat Sumatera. Kedua lempeng ini pada pada 26 Desember 2004 "bersalaman" hingga mendatangkan tsunami ke Aceh.

Meski telah berabad lamanya tidak aktif, namun Patahan Lembang adalah ancaman nyata bagi bencana gempa bumi di Kota Bandung. Dalam skala kecil, seismograf yang di tanam di puncak Gunung Batu, senantiasa mencatat adanya gerakan kerak bumi. Sejauh ini, gempa-gempa kecil itu umumnya terpicu aktivitas vulkanik G.Tangkubanparahu.

Sekedar mengingatkan kembali, Gunung Batu (bukit batu yang tampak pada kanan foto di atas) adalah bukit batu yang pada 27.000-an tahu lalu mencuat ke permukaan akibat gerakan dahsyat kerak bumi yang terpicu meletusnya G.Tangkubanparahu kala itu. Bayangkan jika patahan ini suatu saat aktif kembali, dampaknya akan sangat berat bagi kota Bandung. Sayangnya, pembangunan di Cekungan Bandung tidak didasarkan pada konsep mitigasi bencana, bahkan di masa penjajahan Belanda pun. Mungkin karena aktivitas Patahan Lembang memang teramat sangat langka. Patahan ini bergerak terakhir pada 500 tahun yang lalu dan menghasilkan gempa dengan magnitud 6,6 SR. (*)

Di Kampung Batulotjeng, tempat "berdiamnya" si jabang bayi batuloceng yang sekilas berbentuk seperti lonceng, bentuk cabe pun bagaikan lonceng. Entah ada hubungannya atau tidak dengan nama kampung ini.

Ke-46 peserta "Jajal Geotrek I", berpose dengan latar plang "Bukittunggul", seusai mengunjungi situs Batuloceng di Lereng G. Palasari yang berada di seberang G.Bukittunggul, Minggu (12/7/09). Jajal Geotrek I adalah bagian dari upaya "membuktikan" rute "Geotrek 2" yang terdapat di buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Kegiatan ini dipandu langsung oleh kedua penulis buku tersebut, Budi Brahmantyo dan T.Bachtiar. Kegiatan ini diselenggarakan oleh penerbit Truedee Pustaka Sejati

Menimang "Jabang Bayi", Memeluk Menhir

BIARPUN orang "bule" dikenal rasional dan sangat tidak percaya tahayul, namun Alison Victoria Thackray, tak peduli anggapan itu. Barangkali, kalau sudah berada di negeri berjuta mistisisme, siapapun akan menjadi lebih kompromis terhadap irasionalitas.

Sesampainya di lokasi tempat batuloceng disimpan, di suatu keteduhan lereng Gunung Palasari, Lembang Timur, wanita asal Inggris ini tak perlu menunggu antrian panjang para peserta "Jajal Geotrek I" untuk memutuskan "menimang" si jabang bayi batuloceng. Menurut kuncen batuloceng, Maman, ritual tersebut harus dilakukan sebelum seseorang dapat memeluk satu situs menhir bernama batukujang (??), seraya memanjatkan permintaan pada Tuhan.

Seusai menimang batu berbentuk seperti botol air galon atau sekilas seperti lonceng seberat puluhan kilogram tersebut, ibu satu anak ini pun dapat memeluk mesra menhir bernama batukujang itu, bagaikan Heydi Awuy sedang memetik harpa kesayangannya.

Batuloceng, adalah satu situs yang telah dilindungi sebagai cagar budaya, yang dianggap keramat oleh penduduk setempat di kampung bernama sama: Kampung Batuloceng. Suatu waktu, menurut penuturan Mak Emi (alm), kuncen situs Batuloceng generasi kedua, batu tersebut pernah meramalkan kedatangan Jepang ke Indonesia. Bahkan penduduk sana pun memercayai bahwa batu ini bisa meramalkan bakal terjadinya bencana gempa, semacam seismograf metafisis (lebih lanjut, lihat buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, Geotrek 2).

Selain situs Batuloceng, di kawasan antara lereng G.Bukittunggul dan G.Palasari, lokasi dimana Kampung Batuloceng berada, juga terdapat situs Babalongan. Kesemua situs tersebut menandakan hadirnya budaya megalitik di kawasan tersebut. Adanya peninggalan budaya megalitik juga diperkuat dengan ditemukannya fenomena punden berundak. (naskah & koleksi foto: ruri andayani)