Kawah Domas yang suda
h pias oleh fenomena material vulkanis, kian memucat: kabut mulai turun. Di kejauhan, gelegar guntur terdengar bersahutan. Setitik dua titik air, terasa dingin di kulit kepala. Cemas? Sedikit. Kecemasan itu banyak terobati oleh indahnya suasana Kawah Domas di bulan-bulan yang masih musim penghujan ini, Februari, tepatnya hari ke-27, tahun ke 2010.Akankah turun hujan? berdasarkan pengalaman menyurvei jalur yang sama pada 20 Januari lalu, hujan deras mengguyur tepat saat kami berada di tengah-tengah rimba antara Kawah Domas dengan perkebunan teh Hegarmanah-Ciater.
Maka, seperti biasa, untuk hari H-nya "mitigasi bencana" ditetapkan. Para calon peserta Jajal Geotrek jilid III diwanti-wanti agar membawa jas hujan, baju ganti, dan segala preparat yang bisa melindungi benda-benda rawan air dari kebasahan. (foto kiri: citra Gunung Tangkubanparahu, diambil dari mobil yang sedang melaju di atas jalan layang Paspati)
Yang mencemaskan, tidak semua peserta menurut atau mengetahui info tersebut. Ada yang memang tidak peduli dan siap berhujan-hujanan, ada yang beralasan belum memili'i, berat, dan ada juga yang memang kurang memperoleh informasi. Lebih mencemaskan lagi, yang tidak prepare dengan dengan segala ancaman hujan ini justru peserta paling senior, Dr Gunawan.

Pertama kali saya mengenal Dr Gunawan adalah saat mengikuti Tur Megalitik Gunung Padang Agustus 2009. Saat bertemu lagi di Jajal Geotrek III, style-nya tidak berubah, tetap dengan kaos lengan pendek, topi jepun, dan tas yang diselempangkan begitu saja di pundak, seperti orang mau sekolah saja. Dan….. waduh, dia nggak bawa jas hujan atau payung pun.
Sejarah Gunung Tangkubanparahu
namun "pemangkasan" pucuknya yang rapi sehingga menjadi berbentuk seperti perahu terbalik, sungguh menarik padangan mata.
a yang berlimpah diduga telah menyumbat aliran Sungai Citarum purba. Peristiwa inilah yang diduga menyebabkan dataran tinggi yang kemudian bernama Kawah Ratu

Sesuai namanya, Kawah
Ratu adalah kawah utama juga terbesar di lingkungan Gunung Tangkubanparahu selain dua kawah lainnya yang relatif mudah dicapai yakni Kawah Upas dan Kawah Domas. Selain terbesar, panorama kawah ini juga memang paling memesona. Karena itu, para wisatawan minat umum, umumnya hanya muter-muter di sekitar kawah ini saja.Walaupun tampak tenang, Kawah Ratu masih aktif. Di beberapa titik di dasar kawah, asap belerang terlihat masih mengepul. Meski demikian, keberadaan dua kawah lainnya yakni Upas dan Domas, sudah pasti akan menjadi pelengkap atraksi alam Gunung Tangkubanparahu yang sayang jika dilewatkan. Namun memang, mengunjungi dua kawah terakhir ini akan memerlukan waktu dan tenaga lebih ekstra.
Kawah Upas
Usai menikmati kawah utama Tangkubanparahu, kami menuju Kawah Upas. Dari plaza Kawah Ratu jaraknya kira-kira
satu kilometeran. Syukurlah, para wisatawan umumnya memang tidak berniat mengunjungi Kawah Upas, sehingga suasana di sana tidak hiruk-pikuk seperti di sekitaran Kawah Ratu. Jarak Kawah Upas dari plaza Kawah Ratu memang terlalu jauh bagi wisatawan umum yang biasanya datang ke Bandung untuk mengunjungi destinasi wisata lainnya, terlebih lagi jika membawa anak-anak. Diperlukan waktu seharian untuk mengeksplor kawasan ini. Bahkan kami pun terpaksa tidak mengunjungi sejumlah "situs" yang dituliskan dalam map karena berusaha taat waktu. Selain itu, jalur jalan menuju Kawah Upas cukup terjal. Di beberapa titik, kita bahkan tak bisa hanya mengandalkan kaki, tapi juga cengkeraman tangan. (foto kiri: menuju Kawah Upas)
s ini. Karena memang vegetasinya —terutama yang paling dominan adalah pohon cantigi— tumbuh lebih rapat, dipadu dengan pepohonan lainnya, hingga pakis-pakisan. Binatang pun masih berani menampakkan diri di sini, antara lain tupai kecil yang bergerak sangat lincah sampai tak terkejar oleh mata. (foto kanan: bagian kering dari Kawah Upas membentuk lapangan. Hati-hati, terutama untuk anak-anak. Banyak gas solfatara di sini)Kawah Upas adalah kawah yang relatif landai. Meski tampak tidak aktif, namun justru di sini banyak bahaya gas solfatara. Kata “upas” sendiri memiliki arti “racun”. Karena itu, untuk menghindari hal-hal buruk, peserta dilarang turun ke bawah. Meskipun sebenarnya pelataran kering di bawah
Kawah Domas
on” yang berada tepat di atas Kawah Domas, di dekat sebuah warung. Sebagian peserta menyempatkan memesan minuman tradisional masyarakat Jawa Barat, bandrek. Di sini, muncul wacana-wacana sinisme para peserta Jajal Geotrek terhadap PT GRPP. Salah satu pemicunya adalah sebuah plang peringatan yang ditulis dengan bahasa entah dari planet mana. Kami pun kian khawatir jika harus menyerahkan pengelolaan Tangkubanparahu kepada yang menulis plang peringatan saja kagak becus. (foto kanan: plang "lieur")
mah sudah pasti.(foto kiri: merebus telur di lubang fumarola)
Pada waktu-waktu dengan pengunjung lebih sedikit, biasanya banyak wisatawan baik lokal maupun asing (terutama asal negeri jiran) yang menyempatkan melulur betis dan kakinya menggunakan lumpur dari kolam-kolam air panas tersebut, dengan dipandu pramuwisata-pramuwisata "lokal". Pada satu kesempatan kunjungan lain ke Kawah Domas, penulis rada prihatin (bari hayang seuri) karena para pramuwisata native ini ternyata asal ngomong saja. Misalnya mereka mengatakan kepada wisatawan-wisatawan asing ini bahwa batu mulia yang dijual oleh sejumlah pengasong, dan terkadang oleh para pramuwisata itu sendiri, berasal dari Tangkubanparahu. Sejak kapan di Tangkubanparahu ditemukan batu mulia?
Jungle Walk
ngah hutan itu. Hanya suara cericit binatang, harum tetumbuhan, dan deru angin menghempas pepohonan dan semak belukar, yang terdengar. WOW!!! Kemewahan yang kadang tidak bisa dinikmati barang setahun sekali pun.
nya herbalis sekali, dan pada satu segmen ada yang dipenuhi pandan raksasa berduri. Sedangkan vegetasi yang jenisnya tidak dikenal oleh penulis, lebih banyak lagi. Yang pasti di hutan yg vegetasinya relatif masih asli ini tentu saja tidak ada pohon pinus seperti yang bahkan tumbuh di tebing Kawah Upas.Tea Walk


Jajal Geotrek III diakhiri dengan rehat kopi di sebuah resort di sisi Jalan Raya Subang-Ciater. Terlalu mewah untuk tiket Rp 120.000 per orang sebenarnya, hehehe….Akhirnya, menjelang pukul 17.00, setelah semua peserta masuk ke dalam bus, hujan turun dengan derasnya. Keadaan lalu lintas Bandung Utara di akhir pekan ini ternyata sangat lancar. Bahkan Jalan Setiabudi, tidak semacet yang diduga. Namun kemacetan justru menghadang parah di Jalan Siliwangi, hanya tinggal sekitar satu kilometeran lagi untuk sampai di tujuan akhir kami, gerbang utama ITB di Jalan Ganesha. Untung saja hujan sudah berhenti, sehingga semua bisa pulang dengan bahagia.(*)
Bandung Voruit "Menembus" Kawah Ratu











.jpg)

.jpg)







